Salah satu hal yang agak sensitif dalam dunia penerbitan adalah soal royalti penulis. Pasalnya terkadang ada perlakuan berbeda untuk penulis-penulis yang sudah senior atau best seller karyanya. Maksudnya ada perbedaan dibandingkan dengan penulis lainnya meski masih satu penerbit. Hal semacam ini memang lazim. Itu sudah biasa.
Menjadi tidak wajar adalah ketika kita yang baru memasuki dunia kepenulisan kemudian menuntut royalti besar. Mungkin masih tak apa kalau buku kita mencapai “best seller” melebihi penulis senior di dalam penerbit naungannya. Kalau tidak?
Menjadi tidak wajar juga ketika kita yang baru dalam dunia ini kemudian menulis hanya sekadar mendapat royalti dan keuntungan yang besar. Saya sudah sering dan kerapkali mengulang ini. Bagi penulis baru, hal itu sulit untuk dicapai atau bahkan cukup mustahil kecuali kita adalah “influencer”. Influencer yang saya maksud adalah orang yang memiliki pengaruh besar di sekitar atau komunitasnya. Mengapa tidak wajar? Karena bisa dipastikan hanya kecewa yang akan didapat. Kalau mau untung besar, saya justru menyarankan untuk tidak terlibat di sini, tetapi carilah pekerjaan sebagai penulis lepas, artikel, berita, tulisan pesanan, resensi buku, penulis copywriting iklan, dan pekerjaan-pekerjaan berkaitan sejenisnya. Kalau yang ini jelas. Jelas pekerjaannya, jelas juga ada bayarannya.
Tentu akan menjadi aneh kalau kita berhenti menulis (buku) hanya karena alasan ini: royalti. Iya betul, royalti yang begitu kecil. Sebenarnya, royalti dimana-mana memang kecil. Sekelas penerbit yang besar dan terkenal pun, royalti ya segitu-gitu saja. Tak ada bedanya. Yang beda biasanya sistem atau tata cara “pencairannya” saja. Ada yang per bulan, ada yang per jangka waktu tertentu, ada juga yang menggunakan model presentase buku yang terjual.
Kecil akan menjadi besar karena jumlahnya yang banyak dan berulang-ulang. Artinya royalti akan terlihat besar kalau buku yang terjual banyak. Sampai di sini kita semua paham. Ada syarat kualitas karya, ada syarat momentum, serta ada syarat iklan. Tambahan satu lagi: orangnya terkenal atau tidak.
By the way, ini menurut saya, penulis baru punya keuntungan sendiri. Apa itu? Penulis baru yang berhasil menerbitkan karya pertamanya biasanya akan lebih mudah untuk menjual bukunya, mulai dari teman-teman dekatnya, komunitas sekitarnya, organisasi yang diikutinya, sampai mungkin para guru-gurunya. Artinya selaku penulis baru dengan karya pertama―jika berpikir agak pragmatis―kita bisa memaksimalkan penjualan di sini. Bukan di royaltinya. Satu hal lagi yang mungkin perlu diperhatikan. Ini penting saya utarakan. Kalau kalian menulis buku, kemudian berhasil terbit tetapi kalian tidak pernah memasarkan bukunya, itu tanda kalian tidak mensyukuri nikmat, tidak punya rasa terima kasih, serta tidak membantu penerbit untuk tumbuh dan berkembang. Yang ada justru mematikan.
Kembali ke persoalan utama kita. Dus, cukupkan saja angan-angan soal royalti terlebih dahulu. Simpan dulu saja. Jujur, saya juga orang yang cukup kaget soal ini pertama kali menulis buku. Ternyata kecil sekali. Untung dulu saya bukan termasuk orang yang mengejar soal beginian. Karya sudah bisa terbit saja, Alhamdulillah.
Kini yang paling penting adalah terus menulis dan terus belajar menulis. Bisa jadi butuh waktu lama. Tak apa. Tak ada orang yang ahli atau pro lahir dalam sekejap. Justru mereka lahir karena terus menerus melakukan hal yang ditekuninya. Berulang-ulang dan terus menerus. Soal royalti, sekali lagi: diakhirkan saja! []
Viki Adi N
