Memang sudah lazim kita ketahui bahwa dunia ini memiliki dua sisi yang berkebalikan. Termasuk dalam hal ini ialah penulis. Kesuksesan seseorang yang telah menerbitkan buku pertamanya kemudian disusul karya selanjutnya dan selanjutnya ternyata tak terus bisa menyenangkan orang lain. Ada saja yang tak menyukainya. Ada saja pembencinya.
Alasannya pun bisa beragam. Ada yang tidak suka dengan ide-ide dan gagasannya. Ada yang tak suka karena kesuksesannya. Ada yang tak suka karena orangnya. Ada yang benci karena menjadi saingan. Dan masih banyak segudang alasan lainnya yang berbeda-beda.
Kalau pengagum itu sudah pasti. Setiap penulis pasti punya pengagumnya. Meski bisa jadi pengagumnya itu tak pernah menampakkan diri. Begitu juga sebaliknya. Ada pembencinya. Namun begitu sayang, setiap pembenci bisa dipastikan tak akan pernah menyimpan kebenciannya untuk dirinya. Justru diungkapkan kepada yang lain, meski itu mungkin hanya orang dekatnya.
Saya ingin sedikit menuliskan tentang ini bukan untuk menanamkan rasa dendam, kebencian yang berbalik atau berburuk sangka. Anggap saja ini bagian saya memberikan dan membagikan pengalaman. Juga, untuk mengingatkan bahwa “pembenci” tulisan atau karya itu sebenarnya biasa. Tak masalah. Jadi memang sudah sewajarnya dan biarkan saja ada yang membenci.
Lantas, untuk apa tulisan ini? Minimal jika kalian menjadi penulis kemudian menelurkan karya, kalian tidak kaget dan down karena mendengar cacian dan hujatan para pembenci. Justru dari situ kalian akan bertambah semangat untuk memperbaiki kualitas tulisan dan terus menelurkan karya-karya baru lainnya. Tidak bersedih dan tidak pula mengakhiri “karir” sebagai seorang penulis.
Ketika buku pertama terbit, saya memang tidak pernah memikirkan hal ini. Waktu itu memang belum konsen di dunia kepenulisan. Tulisan yang lahir memang mengalir saja dari keresahan-keresahan yang ada. Ringan saja. Namun ketika buku-buku selanjutnya terbit, kalimat-kalimat miring mulai bermunculan. Bersyukur saya tidak pernah mendengarnya langsung di telinga sendiri. Saya hanya mendapat kabar dari kawan-kawan dekat terkait ini dan itu. Dari tuduhan sok-sokan, “pemberontak”, sampai kedekatan dengan kalangan atau kelompok tertentu. Hal paling menyebalkan adalah soal sok-sokan dan pamer. Ketika mendengar itu saya langsung ketawa. Ya sudah, hanya ketawa saja. Justru kawan-kawan dekat inilah yang menjadi pembela untuk melawan opini-opini dari para orang yang tak suka. Saya sendiri hanya membiarkannya. Beda halnya kalau ia tak suka karena ide atau gagasan yang dibawa, barangkali akan terjadi dialog-dialog yang mencerahkan. Kalau BuzzeRp ya jangan ditanya, isinya bukan gagasan tapi memang soal bayaran.
Bagi kalian yang sudah biasa “dighibahi” orang, mungkin hal-hal seperti ini sudah biasa, tak akan mempedulikannya, dan tak ada pengaruhnya. Namun bagi yang tak pernah, saya khawatir akan terjadi sesuatu yang berbahaya, yakni down dan diakhiri dengan berhenti dari menulis. Ini sebenarnya berlaku untuk umum. Tidak hanya di dunia kepenulisan. Di dunia apapun bisa. Bahkan, saingan jabatan pekerjaan saja bisa berakhir dengan hilangnya nyawa. Kasus-kasus seperti ini sudah banyak terjadi di sekitar kita. Jadi, jangan anggap sepele soal beginian. Karakter tiap orang itu berbeda-beda.
Pada akhirnya, biarkan saja mereka yang membenci berkata apa. Fokus saja kepada peningkatan kualitas karya kita. Telurkan sebanyak-banyaknya. Toh, niat kita memang bukan untuk memuaskan mereka. Sebaik apapun karya kita, pembenci tak akan pernah menerimanya. Dan memang tak ada gunanya memikirkan mereka. Mungkin ketika membaca itu kalian jadi teringat pesan Khalifah keempat Sayyidina Ali bin Abi Thalib. []
Viki Adi N
