Saya masih ingat sekali salah satu alasan para pendiri menubuhkan Gaza Library Publishing adalah keinginan untuk menyebarluaskan gagasan gerakan Islam khususnya Tarbiyah (T besar). Tentu itu tak terlepas dari ketersinggungan aktivitas para pendirinya di kampus. Meski itu hanya salah satu saja karena visi besar sebenarnya adalah soal menerbitkan gagasan dan narasi kebangkitan. Jadi ini bukan soal afiliasi ke satu kalangan saja, bisa jadi ke banyak kalangan. Saya yakin kita paham soal ini.
Di awal Gaza mengudara, banyak sekali buku-buku idealis bertema Tarbiyah. Tercatat buku paling laris ialah Tarbiyah itu (Soal) Ahdaf. Lalu disusul tema-tema lain yang berkaitan dengan tarbiyah (t kecil). Jika saya menuliskan T besar itu maksudnya adalah organisasi (gerakan), sementara jika t kecil itu maksudnya dalam arti “pendidikan”. Pendidikan di sini bisa bermakna luas.
Namun pada faktanya, tema Tarbiyah jika ditulis oleh orang Tarbiyah sendiri riskan untuk diterbitkan jika tidak ada “bekingan” orang dalam. Pasalnya Gaza sendiri mengalami dua kali pelarangan buku. Soal kerugian? Jangan ditanya. Jadi setidaknya kalian saat ini memang harus percaya bahwa sebaik apapun kemampuan tak akan ada apa-apanya tanpa orang dalam. Kalian tidak usah tertawa.
Nah, mengapa penerbit Islam di Solo dan Jakarta (saya tak perlu menyebut namanya) yang berafiliasi ke Tarbiyah bisa dengan bebas menerbitkan tulisan-tulisan bertema tersebut? Bisa jadi, kemungkinan besar karena orang dalam tadi. Saya sedang tidak menuduh atau berprasangka, juga sedang tidak menggerutu. Kita bicara fakta lapangan saja. Saya pribadi juga tak ada masalah dengan mereka. Faktanya saya masih menikmati buku-buku terbitannya.
Jadi, niat baik terkadang memang tidak mendapatkan tempatnya. Mungkin itu kesimpulan yang pas bagi penerbit Gaza. Maka kemungkinan besar ke depan―sejak pelarangan buku yang kedua―Gaza akan menghentikan buku-buku bertema Tarbiyah (T besar). Bukan karena tidak mendukung, tetapi karena pengalaman yang mengajarkan soal keriskanan seperti yang telah saya paparkan di atas.
Kalau tarbiyah (t kecil)? Beda kalau ini. Kami akan tetap dan terus menerbitkannya. Ini bagian dari idealisme kami.
Sampai sini kalau kalian memiliki rencana membuat penerbitan yang berafiliasi atau setidak-tidaknya berkeinginan menerbitkan tema Tarbiyah, untuk saat ini saya sarankan tidak usah. Simpan dulu niat baik itu. Lebih baik ajari anak-anak muda Muslim untuk menulis, menuangkan gagasan-gagasannya, dan menerbitkannya. Saya kira, hal itu lebih bermanfaat.
Viki Adi N
