Rajin

Rajin pangkal pandai? Saya yakin kalian pernah mendengar itu di masa sekolah dasar. Entah benar atau tidak, tapi nyatanya orang yang rajin―yakni orang yang selalu melakukan suatu hal berulang-ulang kemudian tak lupa dengan perbaikan―bisa menyamai orang yang pandai lebih awal. Kaidah ini sepertinya memang berlaku umum.

Dalam dunia kepenulisan pasalnya juga demikian. Semakin banyak dan seberapa sering kita menulis, sedemikian pula kemampuan menulis yang ada pada diri kita akan terus meningkat. Awalnya, kita harus memaksa. Kalau tidak ada paksaan dari diri sendiri, saya yakin tidak akan pernah berhasil. Misalnya, menulis karena didorong terus menerus oleh orang lain. Bisa dipastikan jika orang yang mendorongnya “pergi”, maka wassalam juga berlatih menulisnya.

Sudah pernah saya sampaikan bahwa menulis itu salah satu keterampilan. Artinya untuk menjadi handal atau pro harus dilatih. Ini sama seperti seorang yang ingin menjadi pelukis. Jika dia hanya membaca cara melukis di buku teks dan tidak pernah mempraktikannya, maka bisa dipastikan ia tak akan bisa melukis. Ia hanya melukis di angan-angan.

Jadi, apakah kita akan menulis di angan-angan? Hanya di “batin”?

Banyak sudah buku teks yang membahas bagaimana menjadi penulis, bagaimana cara menulis, bahkan sampai buku ajar, modul, buku praktik, dan semacamnya semua ada. Tapi ternyata semua itu akan dikembalikan kepada Si (calon) penulisnya. Apakah ia akan menulis atau hanya membaca buku cara menulis.

Dulu, saya pernah membeli buku berjudul “Buku Catatan untuk Calon Penulis” karya Puthut EA. Kalian tahu kan siapa Puthut EA? Kalau tak tahu sila cek di mbah gugel.

Dan tak disangka-sangka kalau isinya, “…Kosong?” (Tolong jangan tirukan nada iklan Ramayana yang pernah viral itu). Iya, isi bukunya sebagian besar kertas kosong. Justru kita diminta penulisnya untuk menjadi penulis dengan menggoreskan pena di dalam bukunya.

Jadi, sebagai pembeli buku, Apakah saya rugi? Betul, saya rugi. Isinya zonk. Tetapi kerugian itu setimpal dengan pelajaran yang saya dapat: Saya harus praktik menulis! Nah, itu saja sebenarnya.

Pada akhirnya, justru saya berterimakasih kepada buku itu. Saya tahu betapa pentingnya arti dari membiasakan menulis. Saya juga menjadi tahu arti pentingnya penulis yang rajin, bukan hanya “perajin” tulisan layaknya muda-mudi milenial masa kini yang curhat di status WhatApp, Instagram, Facebook, dan medsos lainnya.

Sekarang, sudah tahu kan bagaimana trik jitunya? []

Viki Adi N

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *