Rasanya, menulis untuk melawan itu lebih bersahaja dibanding hanya berkomentar ketus dan sinis. Misalnya saja ketika RUU P-KS pertama kali meluncur dan menjadi buah bibir publik. Para pendukung RUU ini, khususnya para kaum feminis dan kawan-kawannya rajin sekali membuat tulisan-tulisan baik versi media sosial (panjang tapi putus-putus) maupun yang versi panjang beneran. Namun sebaliknya, dari kalangan penolaknya tak banyak yang menuliskannya. Malahan, banyak sekali yang lebih disibukkan dengan melawan versi ketusan. Ingat! Bukan tak ada. Tetapi tak banyak.
Tulisan-tulisan yang muncul dari para penolaknya, kebanyakan muncul setelah ramai di publik dan kalangan pro-nya begitu rajin membentuk dan menggiring opini publik. Saya bersyukur, kalau tak salah, INSISTS termasuk lembaga paling cepat meresponnya dari organisasi Muslim jauh sebelum gaduh di publik.
Tak usah jauh-jauh bicara tulisan, bahkan di kampus saya dulu, para aktivis dakwah (kampus) banyak yang tak tahu menahu soal RUU macam apa itu. Paling hanya sebagian yang aktif di gerakan mahasiswa yang paham dan mengerti.
Kadang saya heran, “Kok iso?”
Kok bisa-bisanya para aktivis dakwah (kampus) tak tahu menahu soal isu yang sensitif apalagi berkaitan dengan agama secara langsung? Itu keheranan saya dulu. Untungnya, mereka yang aktif di gerakan mahasiswa segera bertindak cepat dengan mengedukasi para aktivis dakwah (kampus) yang sebagian besar belum mengerti.
Soal Permendikbud Nomor 30 Tahun 2021 yang kontroversi itu? Nah, soal ini saya kurang tahu apakah masih sama kondisinya dengan saat isu RUU P-KS muncul atau tidak. Maklum, sudah lama tak ngampus. Tetapi tulisan-tulisan di media sosial yang saya lihat untuk menolaknya melalui argumen yang ilmiah lumayan banyak. Beberapa sikap gerakan mahasiswa (Muslim) maupun organisasi intrakampus sepertinya lebih cepat merespon. Mungkin karena peraturan ini langsung menyangkut di dunia pendidikan, beda dengan RUU P-KS yang dulu itu.
Sudah cukup baik. Menulis untuk melawan (kedzaliman) perlu untuk terus dirawat. Makanya dulu saya sering mengatakan di forum-forum mahasiswa, kalau aktivis itu harus bisa menulis esai. Salah satunya adalah berfungsi untuk hal-hal yang beginian.
Era media sosial adalah era yang penuh dengan penggiringan opini publik bahkan saking tumpang tindihnya informasi yang tersebar sampai-sampai membuat orang “awam” bingung. Mana yang benar mana yang salah. Itulah kenapa tulisan-tulisan yang menyeru pada kebenaran dan membuka kedok keburukan perlu terus diperbanyak.
Pertanyaannya, siapa yang harus menulis itu? Nah, saya yakin kalian sudah tahu jawabannya. []
Viki Adi N
