Sebagian orang beranggapan jikalau investasi saham, reksadana, obligasi dsb. itu cuma bikin kanker (kantong kering) dan rugi besar-besaran, apalagi usia semakin hari cepat bertambah dan kita tidak tahu apa yang mau ditinggalkan nantinya sebagai sandwich generation. Hehehe mungkin inilah realita yang harus diterima. Belajar menabung tidak semudah mengeluarkan budget bulanan untuk sang istri atau bahkan santunan rutin untuk keluarga di kampung halaman (bagi jiwa anak perantauan). Semua butuh perencanaan dan Istiqomah yang diniatin untuk lillahi ta’ala.
Dalam perencanaan finansial ada yang namanya physical investment yang salah satunya emas dan finasial investment yang salah satunya tabungan. Keduanya memang cukup berarti untuk masa depan. Anggaplah konsep ini seperti Baitul maal di zaman rasullulah bagaimama seorang bendehara negara mengelola keuangan untuk kepentingan umat dan banyak fadhilah yang dirasakan oleh sekitarnya.
Jadi, jangan heran kalau orang Indonesia banyak mengambil kesempatan menjadi seorang milyarder. Pertanyaannya adalah apakah semua orang bisa menabung dengan penghasilan yang tak seberapa ? tentu bisa. Ada pepatah mengatakan kalau sejak dini sudah diajarkan untuk menabung pasti usia tuanya tidak hidup susah tujuh tanjakan.
Islam mengajarkan kita tentang sedekah. Sedekah bisa menyucikan diri kita dari perbuatan kebajikan, seperti godaan riba dll. Disinilah investasi dunia-akhirat bisa digenggam. Hari tua menjadi fase memperbanyak amalan jariyah yang bisa dimanfaatkan untuk diri sendiri dan orang lain. Semua bergantung pada diri ini apakah siap menjunjung tinggi pada nilai kemuliaan duniawi secara pribadi atau memberikan nilai kebaikan untuk diri sendiri dan umat manusia.
Fadhi QP
