Suatu ketika ada seorang bapak mengatakan kepada saya bahwa ke depan buku akan hilang. Pernyataan itu dilontarkan setelah tahu kalau saya menekuni dunia perbukuan. Maksud bapak itu bukan hilang dalam arti hilang tak ada lagi, tetapi hilang dalam arti fisik dan berganti menjadi buku digital. Saya yakin kalian sudah tahu maksudnya apa. Betul, ebook maksudnya.
Di masa kini, ebook memang menjadi salah satu pilihan alternatif sebagian kalangan termasuk anak muda (milenial). Bahkan, perpusnas sampai membuat aplikasi untuk gawai (smartphone) yang bisa digunakan untuk pinjam meminjam buku digital (ebook). Kalau tak salah ipusnas namanya. Saya pernah menginstalnya, sedikit membuka-buka, meski tak lama kemudian saya hapus. Ketika ebook kala itu mulai menjamur, perpusnas juga menyeminarkan soal prospek ebook ke depan bagi dunia penerbitan. Malahan, mendorong para penerbit untuk memulainya.
Ebook barangkali telah menyentuh sisi praktis manusia, yakni kemudahannya dibawa kemana-mana. Sama seperti membawa gawai. Siapa yang tak tahu Google Play Book? Saya pribadi memiliki buku yang dibeli di platform tersebut. Biasanya saya membeli ebook karena tidak menemukan buku fisiknya. Ya agak terpaksa sebenarnya.
Berbagai perusahaan gadget juga berlomba untuk membuat ebook reader dengan ragam ukuran dan warna layar yang bisa diatur menyerupai buku sesungguhnya. Harganya terbilang fantastis. Silakan cek sendiri harganya di marketplace. Mohon jangan kaget. Cukup lah untuk dipakai mborong buku (fisik) dalam jumlah banyak dan tak akan selesai dibaca selama beberapa bulan. Maaf kalau agak lebay.
Kembali ke pertanyaan awal. Jadi, apa benar akan hilang? Menurut saya tidak akan. Buku dalam bentuk fisiknya tidak akan hilang. Kalau berdampingan (antara buku fisik dan ebook), mungkin iya.
Ketika membaca ebook, saya tidak bisa berlama-lama. Padahal saya sudah memakai kacamata anti sinar biru. Paling lama pernah bertahan satu jam lebih, tidak sampai dua jam. Itu baru soal mata. Belum soal konsentrasi. Kalau kalian membaca di ebook reader, barangkali soal durasi waktu bisa lebih lama dibandingkan membaca via smarphone. Selain itu, barangkali kalian juga bisa lebih konsentrasi. Persoalannya, sebagian besar (bahkan hampir semuanya) membacanya via smarphone, ya sudah wassalam. Bisa dipastikan konsentrasi cepat buyar. Ada pemberitahuan chat whatsapp, belum lagi pemberitahuan promo gratis ongkir di marketplace, dan lain sebagainya. Wah, ambyar pokoknya.
Secanggih apapun perkembangan teknologi, buku fisik akan tetap ada. Nyatanya, penglihatan kita akan lebih dan tetap bersahabat dengan kertas. Belum lagi bagi para pecinta buku, aroma kertas adalah sesuatu yang khas. Jadi jangan heran kalau ada orang setelah membeli buku lalu membukanya dan mencium aroma kertasnya. Itu biasa!
Soal estetika? Nah, ini juga yang khas dari buku fisik. Kita bisa menyusunnya sesuka hati. Bahkan, satu ruangan bisa kita buat seperti dunia buku layaknya perpustakaan besar milik lembaga-lembaga intelektual ternama. Coba kalian buka “artis-artis” bookstagram, apa ada yang memajang di raknya buku-buku digital? Coba saja buka foto-foto dan video ruangan mereka yang estetik itu. Semua yang terpampang ialah buku fisik. Ebooknya tak kemana-mana, tetap di gawai.
Buku secara fisik juga menjadi penanda sejarah intelektual. Sejarah peradaban yang gemilang selalu diwarnai dan ditandai dengan beredarnya serta bergeliatnya dunia perbukuan. Buku sebagai curahan pikiran, ide, gagasan, penelitian, dan lain sebagainya. Ini bukan berarti ebook tak menandakan kerja intelektual, bukan begitu. Tetapi maksudnya ialah buku fisik itu penanda sejarahnya. Jika ia hilang, barangkali umat manusia di masa depan tak tahu bagaimana bentuk penanda itu. Bukankah itu sesuatu yang ganjil?
Sebagai orang yang menyukai buku, itulah pendapat saya. Meski tetap suka dengan buku fisik, bukan berarti saya mengesampingkan atau menghujat ebook. Buktinya saya juga memiliki ebook di gawai. Saya juga terbantu dengan adanya ebook ketika sedang berada diperjalanan atau di luar sementara saya masih punya tanggungan menuntaskan tulisan, apalagi ketika tak bisa membawa barang-barang banyak―yakni buku fisik―di kendaraan umum. Namun, kebutuhan itu lebih banyak semacam kebutuhan yang “mendesak” saja dan lebih pada “keterbutuhan” pada suatu waktu.
Sekarang, saya tanya pada kalian. Sudah pernah mencium aroma khas kertas pada buku yang kalian beli? Kalau belum, cobalah dari sekarang. Siapa tahu kalian akan jadi “maniak” buku. []
Viki Adi N
