Pada dasarnya, ada tipe manusia yang tidak senang menunggu, ada pula yang justru berpendirian lebih baik menunggu daripada terlambat. Kendati demikian, proses menunggu memang tidak mudah, namun juga harus dihadapi. Apalagi menunggu untuk merasakan sukacita bertemu dengan pasangan idaman, atau justru giliran ‘pulang’ terlebih dahulu.
Ahad, 31 Oktober 2021 menjadi hari yang cukup membuat diri ini banyak berpikir dari biasanya. Di hari yang sama (atas izin Allah) harus menghadiri dua momentum, di mana keduanya cukup mengaduk-aduk perasaan. Pagi harinya, mendatangi mereka yang sedang bersedih hati karena orang terkasih pergi mendahului kita dari dunia ini. Sedangkan di siang hari, mendatangi mereka yang sedang berbahagia merayakan romantika cinta yang halal dan sah secara agama pun negara.
Keduanya sangat bertolak belakang. Satu peristiwa mengandung kesedihan, sedangkan peristiwa satunya lagi lebih dominan menampakkan kebahagiaan. Seperti halnya hidup, Allah tak mungkin memberikan takdir berupa rasa sedih yang terus-menerus hinggap di hati makhluk-Nya. Begitu pula dengan kebahagiaan, selagi manusia masih tinggal di bumi, rasa bahagia tak mungkin bersifat abadi. Tentu Dia akan memberikan rasa bahagia serta rasa sedih sesuai kehendak-Nya dengan jatah masing-masing yang bisa untuk disyukuri sekaligus direnungi.
Adalah iman menjadi bagian utama yang sekiranya berasosiasi pada cara seseorang menjalani ragam takdir dari Sang Pencipta. Bagaimana ia mengajak dirinya untuk senantiasa berbaik sangka pada ketetapan Allah. Pada Quran Surat Al-Qamar ayat 49, Allah berfirman, “Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran.” Kemudian di ayat lain pada Quran Surat Al-Mursalat ayat 23, Allah juga berfirman, “Lalu Kami tentukan (bentuknya), maka Kami-lah sebaik-baik yang menentukan.”
Merujuk pada ayat-ayat tersebut, sebagai seorang hamba, kita diwajibkan untuk yakin dan percaya kepada pilihan-Nya. Setelah itu, bangkit dan melanjutkan kembali hidup sebagaimana mestinya sampai batas waktu yang Dia tentukan. Meski lelah, coba hadapilah, karena dunia memang tempatnya bersusah-susah. Namun, tak apa berhenti sejenak, ambil jeda, dan melanjutkan lagi perjalanan yang harus ditempuh.
Sebab, bagi yang masih diberikan usia, sejatinya kita semua tinggal menunggu giliran. Giliran dalam menemui takdir mana yang lebih awal diterima. Jadi, bersiaplah. Bersegera mengumpulkan bekal-bekal amal yang bermanfaat untuk masa depan akhirat. Semoga Allah tuntun ke jalan lurus-Nya, jalan yang Dia rida atas semangat juang yang para hamba-Nya lakukan di madrasah kehidupan.
Sarah Az Zahra
