Esai Tanpa Rujukan

Terkadang para “calon” penulis atau penulis baru mempertanyakan para esais yang tidak memakai rujukan secara langsung di dalam esai-esainya, “Apakah itu shahih dan dibenarkan?”

Jawaban ini ialah “tidak bisa” jika yang ditulis itu jenis “esai ilmiah” yang biasa kita lihat dalam jurnal misalnya, atau esai yang biasa dilombakan. Tetapi untuk esai bebas―saya lebih suka menyebutnya esai jalanan―jawabannya itu “bisa”. Itu sah-sah saja. Tak masalah. Perlu diingat, esai ini opini. Sumber dan data itu berfungsi menguatkan opini yang sedang kita bangun. Sementara, sumber dan data bisa kita peroleh dimana dan dari mana saja. Memang ada esai-esai yang akan lebih baik tetap dicantumkan sumbernya. Itu akan lebih menguatkan dan bahkan bisa membungkam “lawan”. Tetapi ada juga yang terkadang memang tak perlu.

Saya kutipkan esai Anis Matta dalam buku Mencari Pahlawan Indonesia (2004: 21).

…Atau misalnya, cara Umar bin Khattab memaknai akseptabilitas seorang pemimpin di mata Allah dalam sebuah pesannya kepada para pejabat di masa kekhalifahannya, “Ketahuilah kedudukan Anda di mata Allah dengan cara melihat tingkat penerimaan masyarakat kepada Anda.”…

Dalam kutipan itu, esais tak menuliskan rujukannya, maksudnya diambil dari buku apa misalnya. Itu bisa dan sah-sah saja. Tak masalah. Justru jika dituliskan sumber, nomor halaman, penulis, angka tahun, dan sejenisnya, pembaca akan merasa ribet dan mungkin pesan utama esainya tak akan masuk. Mengingat esai ini adalah esai motivasi tentang kepemimpinan yang ditulis di kolom Serial Kepahlawanan Majalah Tarbawi dan bentuk esainya pendek-pendek.

Meski begitu, menulis rujukan atau kutipan dengan singkat juga bisa dilakukan untuk menguatkan argumen yang dibawa. Misalnya, saya coba kutipkan tulisan Yusuf Maulana dalam buku Petik Merah (2020: 18).

…Cita-cita profetik dapat dikatakan sebuah derivasi atas kalam Ilahi. Pengukuhan epistemologinya, menurut Kuntowijoyo, diinterpretasikan melalui antara lain penafsiran sosial (daripada penafsiran individual) dan mengubah Islam yang normatif menjadi teoritis (lihat: Paradigma Aksi, 1998: 283-284). Tantangan ini bukan hanya ditujukan pada cendekiawan, melainkan juga gerakan massa…

Dari dua contoh di atas, setidaknya kita bisa belajar bagaimana menulis esai, baik tanpa rujukan maupun yang menggunakan rujukan. Kalau soal esai ilmiah atau esai yang biasa dilombakan itu, kita tak perlu membahasnya. Para mahasiswa saya yakin paham soal begituan, bahkan panduannya juga telah disebarluaskan oleh kampusnya.

Jadi, dengan mengetahui persoalan ini, kita tak perlu risau lagi. Paling penting dari itu semua adalah teruslah menulis. Jam terbang memang akan menentukan. Selain itu, jika kita sedang membaca, jangan hanya perhatikan pesan yang sedang dibawa penulis. Coba perhatikan juga bagaimana penulis membawakan argumennya untuk meyakinkan pembacanya. Nah, dari situ kita juga bisa belajar tentang menulis. []

Viki Adi N

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *