Plagiat adalah salah satu bentuk pencurian yang biadab karena yang dicuri itu adalah sebuah gagasan, yang melalui tahapan dan perenungan yang tidak sebentar. Lalu tanpa ada rasa bersalah diakui sebagai karya sendiri. Mirisnya hal-hal semacam itu marak sekali di negeri kita ini. Mulai dari siswa, mahasiswa sampai yang bergelar Profesor di sebuah universitas. Apakah sesulit itu di dalam menulis dan berkarya?!
Saya berfikir dan merenung lama ketika Yusuf Maulana menuliskan di dalam bukunya Hikayat Karya Gagal bahwa beliau menemukan seorang profesor dengan karya-karya yang banyak tetapi suatu ketika terungkap bahwa apa yang dilakukan oleh profesor tesebut adalah sebuah topeng semata. Si profesor ternyata mempuyai asisten untuk menuliskan dan mempercantik beberapa karya yang diakui murni karangannya.
Sebagian kalangan mungkin menganggap ini adalah suatu hal yang lumrah karena sering kali dilihat di sekolah-sekolah atau perguruan-perguruan tinggi. Padahal Allah di dalam Al-Qur’an sudah mengingatkan agar hambanya tidak berbuat curang dan bagi saya pribadi hal semacam itu adalah sebuah perbuatan yang sangat menyedikan. Bagaiamana tidak, apa yang terjadi pada mahasiswa-mahasiswi jika setingkat profesor saja sudah melakukan pelacuran intelektual seperti itu.
Dampaknya yaitu yang sering kita jumpai mahasiswa, teman atau bahkan diri kita sendiri tidak mampu berkarya dan menghasilkan karya-karya ilmiah sebab yang mengajarnya sudah tak mampu memberikan dan mencontohkan dengan baik. Contoh kecilnya adalah sudah jamak dijumpai bahwa ketika mahasiswa disuruh membuat makalah atau skripsi tak jarang ditemukan tulisannya tersebut akan banyak mencomot dari tulisan-tulisan orang lain tanpa pertanggung jawaban sama sekali.
Pertanyaan besarnya adalah bagaimana Indonesia atau Islam ini bisa maju dan bersaing dengan lain jika para akedemisinya latah membeo dan sudah malas berfikir seperti itu. Ketidak mampuan dalam menulis salah satu penyebabnya adalah mungkin karena kurang dalam membaca buku. Sehingga apa yang mau dikeluarkan ketika hendak menulis tidak ada (kosong) karena di kepalanya tidak mempunyai referensi. Jadilah mereka pelacur intelektual.
Kalau begitu bagaimana ingin mengadu wacana atau gagasan jika hal-hal semacam itu ramai dilakukan. Sangat berbeda dengan para founding fathers kita dulu yang semuanya diperbincangkan lewat tulisan atau opini. Dan kekurangan membaca, tidak mampu dalam menulis serta sedikitnya gagasan mengakibatkan orang mudah terombang ambing dalam banyaknya informasi yang serba cepat seperti saat ini.
ISMAIL
