Berkaca Pada Pak Natsir

Ketika membaca Biografi M. Natsir, salah satu tokoh dan cendikiawan Muslim Indonesia yang ditulis oleh Pak Luman, pada lembar-lembar awal dalam buku tersebut tertulis gambaran singkat M. Natsir dari tokoh dan cendikiawan Indonesia yang hidup sampai saat ini. Mereka menuliskan bahwa biografi M. Natsir yang di tulis oleh Pak Lukaman kali ini adalah tokoh yang sederhana dalam penampilan tetapi teguh dalam pendirian.

Kesederhanaanya pun telihat pada cara dan kehidupan beliau, bahkan M. Natsir bisa digolongkan—dibandingkan hari ini— sebagai politisi yang “miskin”. Kita bisa melihat, ketika ada seorang teman yang menghampirinya. Waktu itu beliau masih menjabat Perdana Menteri pertama NKRI. Teman tersebut mengatakan pada M. Natsir bahwa dirinya ingin meminjam uang padanya, akan tetapi beliau menyuruh teman tersbut meminjam saja ke Majalah Hikmah yang pada saat itu dipimpinnya. Beliau menyarankan tersebut bukan karena tidak ingin meminjamkannya tetapi Pak Natsir tidak mempunyai uang untuk meminjaminya. Mungkin kita bertanya-bertanya bagaimana mungkin seorang Perdana Mentri tidak punya uang. Namun begitulah Pak Natsir.

Contoh kesederhanaan seperti disebut di atas mungkin sekarang jarang kita temui atau bahkan tidak akan pernah dijumpai. Karena kita selalu melihat politisi dan menteri pada saat ini hanya mementingkan isi perutnya sendiri, mereka tidak sadar bahwa mereka mempunyai tanggung jawab pada rakyatnya. Bahkan bukannya memberi bantuan dan memperbaiki keadaan masyarakat dam rakyat, malah memanfaatkan kesengsaraannya dengan merampok uang rakyat, misalnya dalam kasus Bansos Covid-19.

Dari situ pesan M. Natsir penting sekali dihayati oleh para pemimpin atau calon pemimpin negeri ini agar tidak terlena dan terperosok dalam gemerlapnya kekuasaan yang sementara itu. Beliau mengatakan, “Cukupkan yang ada, jangan cari yang tiada. Pandai-pandailah mensyukuri nikmat.”

Di dalam perbedaan pun sikap dan prilaku Pak Natsir tidak berlebihan. Sikap seperti ini sangat penting pada masa ini, dimana informasi serba cepet dan terkadang membingungkan terutama menentukan mana yang benar dan mana yang salah. Akhir-akhir ini, di sebagian kalangan umat Islam Indonesia, kita dipertontonkan permusuhan antar umat (Muslim) itu sendiri. Perbedaan dianggapnya sebuah aib yang sangat besar sehingga ketika salah satu dari mereka mengucapkan salam pun tak sudi untuk menjawabnya. Itu menunjukkan tidak dewasanya dalam berpikir dan tentu dampak lainnya ialah menjadi bahan tertawaan oleh mereka yang berada diluar Islam. Namun, ada yang berbeda dengan Pak Natsir.

Kita tahu bagaimana Pak Natsir berpolitik dengan ideologinya sementara lawannya adalah Aidit yang juga sangat teguh dan lantang menyerukan pendirannya. Mereka berdua bagaikan Langit dan Bumi yang tidak mungkin bersatu. Tetapi ketika di Kantin gedung DPR, justru beliau asyik ngobrol dan tertawa dengan Aidit sambil minum Kopi. Bayangkan keadaan itu pada saat sekarang kira-kira apa yang terjadi.

Sosok atau tokoh seperti M. Natsir seyogyanya harus diramaikan kembali agar masyarakat kita ini tidak saling menyalahkan yang membabi-buta dalam perbedaan sampai-sampai melihat wajahnya pun enggan apalagi duduk untuk berdiskusi. Kesederhanaan dan ketegasan Pak Natsir perlu dipelajari dan diteladani lagi dan lagi. []

Ismail

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *