Banyak orang yang saya kenal gemar membaca atau mengoleksi buku. Ada senior kampus yang begitu demen buku-buku beragam tema keislaman, ada adik-adik yang suka tema pemikiran, filsafat, politik, dan ah semacamnya sampai terkadang buku jurusannya sendiri bisa dihitung jari. Saya sendiri juga pernah mengalaminya. Buku-buku mengenai seni rupa di rak hanya ada beberapa saja. Tak sebanding dengan buku-buku bertema lain.
Mengenai “kekayaan” itu, bisa dipastikan masih banyak sahabat, senior, atau adik tingkat―waktu saya ngampus―yang berpotensi untuk menuliskan kekayaan bacaan dan gagasannya. Jadi, kalau kalian melihat saya adalah salah satu orang yang banyak menulis (buku) misalnya, itu tak benar sepenuhnya. Bisa jadi masih banyak orang di sekitar kita yang memiliki sumber kekayaan referensi termasuk gagasan-gagasan brilian yang belum terbukukan atau minimal tertuliskan. Belum lagi mereka yang berpengalaman secara profesional dalam ranah tertentu (baca: praktisi). Kalau dituliskan, wah bisa banyak sekali itu.
Ternyata masih banyak yang memilih untuk tidak menuliskannya. Tak masalah, itu pilihan masing-masing. Meski sebenarnya akan sangat disayangkan. Itu menurut pendapat saya pribadi. Siapa tahu, melalui gagasan-gagasannya, profesionalitasnya (semisal para praktisi), dan kekayaan sumber ilmu yang dimilikinya, dapat memberikan kebaikan dan mencegah hal-hal yang buruk terjadi (amar ma’ruf nahi munkar).
“Biarkan saya jadi pembaca saja dan menikmatinya,” begitu salah satu jawaban senior saya atas pertanyaan mengapa tak menuliskan gagasan-gagasannya dalam bentuk buku. Ada juga jawaban-jawabn lain yang terkadang membuat geleng-geleng kepala.
Hal-hal seperti ini penting untuk digarisbawahi para “calon” penulis atau penulis itu sendiri. Untuk apa? Tentu untuk menjadi bahan evaluasi kita pribadi. Dari situlah kita akan lebih mawas, rendah hati, dan mengakui bahwa kita selaku penulis masih banyak kekurangan dan masih sedikit ilmu yang dipunya. Masih banyak orang di luar sana yang memiliki kekayaan ilmu tapi memilih untuk tidak menuliskannya. Bisa jadi mereka menghasilkan karya lebih besar dari kita yang berbentuk buku. Mungkin mereka menghasilkan karya berupa manusia-manusia baik, terampil, dan handal. Mungkin mereka menghasilkan karya berupa alat-alat yang berfungsi memudahkan kehidupan manusia, dan lain sebagainya.
Mungkin merekalah yang pada suatu saat akhirnya ditulis. Ditulis karena karya-karya besarnya. []
Viki Adi N
