Hidup dalam kondisi yatim seringkali dipandang dengan keterbelakangan dan keterbatasan. Keterbatasan dianggap jurang pembatas untuk maju dan berprestasi dalam meraih suskes serta kemuliaan. Namum, sejarah mencatat bahwa banyak orang-orang hebat terbentuk dan terdidik dalam kondisi yatim.
Salah satunya adalah Nabi Muhammad SAW. Allah takdirkan ayah beliau wafat ketika dalam kandungan ibunda. Di usia enam tahun ibunda beliau wafat, lalu diasuh oleh kakek beliau. Pengasuhan berikutnya oleh paman beliau. Penjagaan, pertolongan, dan perlindungan tiada hentinya dilakukan paman beliau ketika Allah memberikan amanah besar sebagai nabi dan rasul.
Sepeninggalan paman beliau, orang-orang Quraisy berkeinginan membunuh beliau. Namun, Allah perintahkan untuk berhijrah menuju Madinah. Di Madinah kedatangan Nabi Muhammad SAW disambut dengan suka cita. Allah gerakkah hati mereka untuk menolong dan melindungi Nabi Muhammad SAW. Begitu perlindungan dan pertolongan dari Allah.
Betapa mengagumkan perjalanan hidup yang beliau tempuh. Dimulai dari kondisi paling lemah hingga meraih kemuliaan tertinggi. Banyak tekanan dan benturan dalam hidup membentuk diri menjadi orang yang kuat. Bersyukur atas kesederhanaan membuka diri untuk terus menggali dan mengembangkan potensi.
Kondisi yatim bukan penghalang mecapai sukses dan kemuliaan. Sukses bukan berawal dari melimpahnya fasilitas. Namun, berawal dari rasa syukur atas fasilitas yang ada dan keberanian dalam diri. Sudah sepatutnya diri bekerja keras dan bersungguh-sungguh mempersembahkan kebaikan dan kebermanfaatan untuk diri serta umat.
Eni Astuti, Sukoharjo, 16 September 2021
