Ketika saya mengikuti diskusi buku Muqaddimah Ibnu Khaldun yang langsung dibersamai oleh penerjemahnya, yakni Pak Ahmadie Thaha, sebenarnya saya cukup kaget. Pasalnya nama Ibnu Khaldun adalah sosok yang seperti itu. Memang, sebelumnya saya cuma membaca tentang Khaldun dari sedikit sumber saja.
Di akhir hidupnya, Khaldun adalah seorang ilmuwan. Namun di masa mudanya, ia adalah politikus yang begitu ulung. Sampai-sampai label pengkhianat seringkali tersemat dalam dirinya. Mengingat ia selalu langgeng soal jabatan negara meski penguasanya sering berganti dan saling menjatuhkan. Memang tak selalu mulus, di awal karirnya itu, ia juga pernah menjadi tahanan politik.
Soal politik, Khaldun punya pandangan menarik. Pak Ahmadie Thaha menggambarkan ketertarikannya melalui pembandingan dengan sosok Ibnu Taimiyah. Katanya, pada awalnya ia mengagumi Ibnu Taimiyah yang begitu idealis. Dalam menjalankan pemikirannya, Ibnu Taimiyah selalu berusaha menjadikannya sebuah gerakan, bahkan tanpa teding aling-aling. Makanya kita kenal Ibnu Taimiyah selain sebagai pemikir juga sebagai motor sebuah gerakan. Namun di tengah perjalanannya atas nama idealismenya—termasuk soal politik—Ibnu Taimiyah akhirnya banyak menemui kebuntuan dan berakhir dengan bui.
Akhirnya, lanjut Pak Ahmadie Thaha, ia menemukan sumber tentang Ibnu Khaldun di pesantrennya kala itu. Nah, di situlah ia menemukan seorang politikus yang realistis dan empiris. Begitulah awal ketertarikan Sang penerjemah buku Muqaddimah Ibnu Khaldun di Indonesia.
Sepertinya, di kesempatan selanjutnya kita perlu mengulas bagaimana pemikiran politik Khaldun ini. Sepertinya menarik. Pada kesempatan ini, coba kita bahas yang lain. Saya cukup tertarik akan perbandingan yang dibuat Pak Ahmadie Thaha. Pasalnya, pemikiran Ibnu Tamiyah, misalnya dalam kitab Siyasah Syar’iyah—sering menjadi rujukan bagi organisasi pergerakan mahasiswa yang dulu saya aktif di dalamnya—ketika kita membacanya, memang begitu terasa cita rasa idealismenya. Cocok memang untuk menjadi salah satu rujukan akan tema-tema politik Islam. Barangkali yang disayangkan adalah tak mempelajari bagaimana “karir politik” Ibnu Taimiyah itu sendiri. Jadi mungkin seperti ada yang kurang, seperti makan sayur tanpa garam kali ya. Di sisi lain, kiprah Khaldun dan pemikirannya masih jarang sekali tersentuh oleh aktivis dakwah maupun aktivis gerakan (mahasiswa).
Sebenarnya dua kutub pemikiran ini bisa sama-sama menjadi rujukan, khususnya di masa-masa seperti ini yang mana politik benar-benar begitu atraktif. Di satu sisi, kita harus tetap menjunjung idealisme. Namun di sisi lain, politik juga harus realistis sesuai dengan kondisi yang dihadapinya. Antara sosok Ibnu Tamiyah dan Ibnu Khaldun sebenarnya bisa ditarik pelajaran-pelajaran berharga itu.
Sayangnya, memang masih ada ketidakseimbangan. Nah, para aktivis dakwah, para motor ormas atau parpol Islam kudu-lah mempelajari warisan intelektual peradaban Islam itu. Jika Barat kerapkali mengkajinya, masa kita selaku “pewaris” tak pernah menyentuhnya. Wah…wah. []
Viki Adi N
