Pendidikan adalah milik kita semua yang mau untuk meraihnya. Meraih dengan segala perjuangan dan lika-liku yang menghadangnya. Dengan segenap kemauan untuk melakukannya. Dan tentu saja dengan niat ikhlas lillahita’ala.
Pendidikan merupakan keniscayaan yang harus diraih, diraih dari mana saja baik itu pendidikan formal maupun non formal. Karena dalam hadist dikatakan “Thalabul ‘ilmi faridhatun ‘ala kulli muslim” , bahwa “Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim”. Hadist ini tidak menyinggung waktu, usia, tempat, apalagi di kampus mana kita belajar. Yang ada hanya kewajiban menuntut ilmu bagi semua manusia diseluruh muka bumi terkhusus bagi seorang muslim dan muslimah. Maka sudah sepantasnya sebagai seorang muslim akan terus menempuh pendidikan hingga akhir hayatnya.
Rasulullah Saw sebagai “guru manusia” tentu saja juga mengajarkan kepada kita tentang makna pendidikan. Nabi Saw merupakan tokoh yang sukses dalam melakukan pembaharuan besar pendidikan holistik yang itu merubah wajah peradaban Arab dan dunia. Pernah suatu kali ketika pasukan muslimin berhasil menawan pasukan musyrik saat perang Badar, beliau membebaskan tawanan perang dengan syarat mengajarkan baca tulis kepada masyarakat Madinah. Hal itu menandakan bahwa beliau begitu peduli dan menjunjung tinggi nilai pendidikan. Dengan diajarkannya baca tulis kepada masyarakat Madinah hal itu memberikan percepatan pembangunan SDM di kota Madinah.
Di zaman itu pengakuan Rasullullah Saw terhadap orang-orang yang mengenyam pendidikan tidak dalam bentuk sertifikat ataupun ijazah melainkan dengan ketakwaan. Yang itu dicerminkan dari akhlak dan amal sholeh yang dilakukan masing-masing sahabat pada waktu itu. Pada saat ini ijazah merupakan bukti bahwa seseorang pernah mengenyam pendidikan dalam bidang yang digelutinya. Namun menjadi pengingat bersama adanya kita sebagai sarjana ataupun orang yang mengenyam pendidikan sudahkah kita menghadirkan nilai-nilai ketakwaan dalam diri kita seperti halnya para sahabat?.
Di Indonesia sendiri dalam menempuh pendidikan memiliki banyak jalan, dari melalui lembaga pendidikan formal sampai pendidikan non formal. Namun tentu saja pendidikan Indonesia tidak terlepas dari lembaga pendidikan formal. Lantas apakah semua kalangan sudah bisa mengakses lembaga pendidikan di Indonesia?
Dalam mengakses pendidikan di Indonesia realitanya tidak semua orang bisa mengakesnya. Permasalahan pembiayaan masih saja menghantui para penuntut ilmu di negeri ini, belum lagi jika kita masuk jenjang perguruan tinggi. Banyak biaya yang harus dikeluarkan untuk mengaksesnya mulai dari biaya semester sampai biaya wisuda. Hal itu entah itu sampai kapan? Negeri yang katanya menginginkan kemajuan tapi tak pernah berbenah dalam masalah pembiayaan pendidikan.
Dalam hal ini pendidikan Indonesia masih saja bergelut dipermasalahan-permasalahan yang teknis dan belum masuk ke ranah kualitas, kurikulum ataupun visi pembangungan insani. Semoga saja nanti lahir pemimpin-pemimpin baru yang bisa membaharui wajah pendidikan Indonesia. Kita lihat saja atau mungkin pemimpin itu adalah anda.
Adapun pendidikan juga dapat diraih dari tempat-tempat terdekat dengan akses yang mudah bahkan gratis, salah satunya pengajian di masjid dekat rumah kita. Namun realitanya, kemudahan akses itu tak cukup untuk menggerakan ghirah kebersemangatan untuk meraih ilmu karena kalau kita melihat hanya segelintir orang yang mau menghadiri majelis tersebut bahkan terkadang hanya dihadiri para orang tua. Hal ini menyisakan ruang kritis yang begitu besar bagi umat ini khususnya bagi para pemuda penerus bangsa.
Memang kajian-kajian didalamnya, ilmu yang diajarkan berbasis muatan agama namun menjadi penting sebagai pendamping ilmu dari pendidikan formal agar nantinya terlahir SDM yang tidak hanya mengusai skill namun juga berakhlak dan beradab. Dengan berbagai kemudahan ini, apakah diri kita mau untuk melangkahkan kaki menghadiri majelis-majelis tersebut?
Lagi-lagi segala sesuatu tergantung pada niat. Niat yang mengawal perjalanan kita dalam menuntut ilmu atau menempuh pendidikan. Tentu saja niat itu haruslah tujuannya hanya kepada Allah. Dengan begitu, apapun latar belakang bidang yang digeluti tidak akan terlepas dari nilai-nilai keislaman dan menjadi impian kita bersama bahwa cita-cita pendidikan tidak hanya melahirkan skill atau keahlian namun juga melahirkan manusia-manusia yang bertakwa kepada tuhannya.
Akhmad Suhrowardi
