Apakah jalan menuju surga selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar? Atau justru dari laku kecil yang dijalani dengan kesadaran dan ketekunan?
Ke Surga Liwat Jogja adalah kumpulan permenungan tentang hidup—dilihat dari sudut yang sederhana, dari kota yang juga sederhana: Jogja. Dari ruang kehidupan sehari-hari, dari percakapan dengan tradisi Jawa, dari pengalaman menjadi manusia yang hidup di zaman yang serba cepat, serba bising, dan sering kali serba dangkal.
Buku ini tidak menawarkan romantisme budaya, bukan pula “cocokologi” yang memaksakan tradisi agar tampak selalu benar. Justru sebaliknya. Ia berangkat dari kesadaran bahwa hidup modern sering menghadapkan manusia pada pilihan-pilihan sulit—pilihan yang kadang terasa seperti menggenggam bara: dilepas sakit, digenggam pun panas.
Melalui ungkapan-ungkapan Jawa, peribahasa, dan laku kebijaksanaan yang diwariskan turun-temurun, penulis mencoba membaca kembali makna hidup: tentang kehati-hatian, kesederhanaan, martabat, tanggung jawab, dan kesanggupan manusia menjaga dirinya di tengah perubahan zaman.
Dari Sepi Ing Pamrih, Tuna Sathak Bathi Sanak, hingga Wis Ana Sing Ngatur, setiap tulisan adalah undangan untuk berhenti sejenak—merenung, menata langkah, dan mengingat bahwa hidup tidak semata soal menang atau kalah, kaya atau miskin, cepat atau lambat.
Surga memang bukan wilayah manusia. Namun, perjalanan menuju ke sana—dimulai dari cara kita hidup hari ini. Dan kadang, jalan kecil itu… bisa saja lewat Jogja.




Ulasan
Belum ada ulasan.