Bagian pertama dan kedua dari sastra profetik (kaidah dan etika) sudah kita urai pada tulisan sebelumnya. Kali ini, kita akan mengulas bagian terakhir, yakni berkenaan dengan strukturnya.
Kuntowijoyo menyebutkan bahwa etika profetik mempunyai bias masyarakat modern, perkotaan, bahkan global. Seolah-olah melupakan tema penting yang khas Indonesia, misalnya perubahan sosial-budaya, adat istiadat dan kedaerahan, sosial-ekonomi, masyarakat pedesaan, atau masa lalu. Ini memang “layak mendapat perhatian”, begitu menurut Kuntowijoyo.
Lalu, dengan rumusan etika profetik, yakni dengan memakai konsep-konsep, seolah-olah sastra bukan lagi konstruksi imajiner tentang realitas, tetapi pemikiran sosial-budaya. Menurut Kuntowijoyo, tidak begitu. Baginya, maklumat sastra profetik hanya ingin agar sastra Indonesia lebih cendekia dalam ekspresinya, sehingga sastra mendapat pengakuan sejajar dengan ilmu dan teknologi.
Kandungan sastra harus adiluhung dan tidak terjebak dalam budaya massa, apa pun akibatnya, misalnya: penjualan buku jadi tak banyak, penulis harus punya pekerjaan lain, tidak terkenal, dan lain sebagainya. Ini sebenarnya konsekuensi logis. Sebab, buku-buku yang tidak mengikuti trend, budaya massa, popularitas, bisa dipastikan kurang laku dipasaran.
Menurutnya, entah dimengerti awam atau tidak, kandungan sastra perlu ditingkatkan. Etika profetik yang menyuguhkan tema sosial-budaya adalah cara untuk itu.
Lanjutnya, konsep-konsep yang telah diuraikan (mesin politik, marjinalisasi, dst.) memang analitis, tetapi sastra tetaplah deskriptif-naratif dan tidak analitis. Sastra bukanlah reportase jurnalistik, bukan tulisan ilmiah, dan bukan buku filsafat.
Lalu, Kuntowijoyo membagikan pengalamannya selama menulis, bahwa ada dua cara agar sastra tetap deskriptif-naratif, meski mengungkapkan etika profetik.
Pertama, menulis sastra dari dalam. Artinya, peristiwa-peristiwa dipahami sebagaimana tokoh-tokohnya memahami dunianya sendiri, dan bukan sebagaimana konsep etika profetik melihat. Pengarang harus membiarkan tokoh-tokoh imajinernya mereaksi peristiwa-peristiwanya sendiri. Merekalah yang berpikir, berbicara, dan berbuat, bukan pengarang. Pengarang harus menjauh dari tokohnya.
Kuntowijoyo menegaskan, “Kalau tokoh-tokoh imajiner itu orang sederhana, pikiran, perkataan, dan perbuatannya juga harus sederhana.” Ia mencontohkan, salah satunya dengan tokoh yang ada pada novel Mantra Pejinak Ular.
Kedua, menulis sastra dari bawah. Kuntowijoyo menjelaskan bahwa pengarang tidak berangkat dengan teori dan konsep etika profetik (misalnya teori konflik dan konsep kelas) yang merangkai karya sastra. Pengarang hanya dituntut untuk konsisten dalam pelukisannya dan koheren dengan tema (konsep etika profetik) dan plotnya (runtut, jalan cerita masuk akal). Intuisi akan menuntun pengarang. Sesuatu yang berbeda dengan ilmuwan yang dituntut menulis berdasar teori dan konsep dari “atas”, yang akan menuntun penelitiannya.
Kuntowijoyo mengatakan bahwa hampir tulisan-tulisannya ditulis dengan cara ini. Berangkat dari yang serba sederhana, yakni kekaguman atas “misteri kehidupan”. Ia mencontohkan dengan novelnya yang berjudul Wasripin & Satinah.
Dua buku yang disebut (Mantra Pejinak Ular, Wasripin & Satinah, termasuk novel Pasar) masih dijual di matketplace, kita bisa juga membacanya secara gratis di aplikasi Ipusnas.
Kemudian, Kuntowijoyo menjelaskan di mana letak konsep-konsep etika profetik (tema-tema) dalam karya sastra. Oleh karena itu, kita perlu melihat struktur sastra. Menurutnya, sastra adalah strukturalisasi dari pengalaman, imajinasi, dan nilai.
Imajinasi selalu ada dalam setiap struktur sastra. Imajinasi adalah kemampuan mental untuk membayangkan sesuatu secara urut, sadar, dan aktif, tidak seperti bayangan dalam mimpi yang tak runtut, tak sadar, dan pasif.
Adapun pengalaman, bisa pengalaman sendiri, orang lain, dan hasil riset. Lalu, nilai bisa apa saja, misalnya: agama, filsafat, ilmu, adat, dan sebagainya. Lalu, para pengarang diminta oleh Kuntowijoyo untuk meletakkan konsep-konsep etika profetik (tema) sebagai nilai yang akan dikerjakan.
Maklumat sastra profeik, menurut Kuntowijoyo hanyalah satu usaha untuk meningkatkan kualitas sastra Indonesia, supaya sastra lebih berperan dalam masyarakat. Menariknya, maklumat ini ingin ditujukan, utamanya untuk pengarang muda. Pengarang harus berpartisipasi pada kehidupan bangsa sesuai dengan profesinya.
Lalu, Kuntowijoyo memberikan analisisnya, “Karena bangsa Indonesia modern kita sedang dalam krisis, krisis peradaban. Krisis peradaban itu tak mungkin diselesaikan oleh politik—sekalipun politik yang baik, apalagi politik yang jelek. Krisis itu juga bersifat global dan universal. Bagi Martin Heidegger krisis itu disebabkan karena kita sudah kehilangan makna hidup, dan tugas sastrawan yang sangat relevan dan fungsional ialah mengembalikan makna hidup pada kemanusiaan.”
Untuk mengakhiri maklumat yang ditulisnya empat hari sebelum wafat, Kuntowijoyo menuliskan ungkapan Paul Goodman, “Inilah cara bagi saya untuk mengabdi kepada Tuhan dan tanah air.”
***
Pada akhirnya, selesai juga uraian poin-poin Maklumat Sastra Profetik. Saya menulis hal ini karena ingin, bagi siapa saja yang berminat pada tema fiksi, khususnya novel, untuk segera mulai menulis. Tentu saja menulis dengan etika profetik, lalu (saya berharap) agar teman-teman bisa mengirimkan naskah tersebut ke GLP (Gaza Library Publishing). Saya tahu, nasihat ini kurang tepat diberikan oleh orang yang belum pernah mempublikasikan cerita atau novelnya dalam bentuk buku seperti saya (cerita-cerita karangan saya hanya pernah dipublikasikan di aplikasi baca). Namun, uraian ini hanyalah sebentuk tanggung jawab dari kepala dapur redaksi di GLP. Saya tunggu karya teman-teman semua. []
Viki Adi Nugroho
