Ada perdebatan yang agak lucu di dunia maya. Entah kapan itu, lewat postingan berupa karosel di Instagram. Entah akun siapa, sudah lupa juga. Inti pesannya adalah ia kurang suka dengan mereka yang “ngece” para penulis yang memulai karirnya dengan menjadi konten creator.
Ya, sebenarnya arah perdebatan mereka sudah bisa kita tebak. Palingan soal follower yang berujung pada popularitas karya. Kalau ditarik lagi, ya soal penjualan karya (buku).
Melalui follower yang banyak, biasanya seorang konten creator akan lebih berhasil menarik banyak pembeli. Beda dengan mereka yang memulai karir nulisnya bukan sebagai konten creator atau orang yang memiliki banyak pengikut (follower).
Padahal, kalau mau dipikir waras, konten creator atau bukan, jika mereka seorang penulis, yang paling penting sebenarnya adalah tulisan mereka. Baik dari mulai proses, konten, hingga konsistensinya. Itu saja.
Namun, entah mengapa perdebatan mereka begitu panas dan seru. Mungkin, anak zaman medsos begitu kali ya? Biarlah, tak mengapa.
Bagi kita yang masih ada cita untuk menjadi seorang penulis. Tak perlu pusing memikirkan hal semacam itu. Lebih baik saat ini, gunakan setiap kesempatan yang ada untuk belajar menulis.
Mau menulis sambil menjadi konten creator di medsos? Boleh saja. Itu bagus. Mau menulis tanpa memikirkan riwehnya gawean para konten kreator? Juga tak mengapa. Toh, saya yakin di zaman ini, hampir semua orang yang menulis punya media sosial. Terlepas apakah ia akan membagikannya di sana atau tidak.
Kalau masih ada cita jadi seorang penulis, luangkan waktu untuk menulis. Kalau cuma di angan, ya susah. Apalagi kalau tak pernah dipikir dan dikerjakan? []
Viki Adi N
