Gemetar hati mendengar kabar, kisah pilu mu di negeri Palestina. Memerah wajah, menunduk lesu, saat menyaksikan kondisimu. Lantunan doamu terlampau merdu dan darah juangmu menjadi bukti, bahwa ketaatan yang kau tunai terbayar, kelak di hari kebangkitan. Kesabaranmu menjadi jalan menyambut kemenangan yang dijanjikan!
Sebagian masyarakat Indonesia menganggap bahwa konflik Palestina dan Israel merupakan konflik politik semata dan tidak perlu adanya campur tangan negara lain dalam mengatasi konflik tersebut. Mereka menganggap bahwa membantu dan membela Palestina merupakan hal yang sia-sia untuk dilakukan. Tidak jelas asal-usul dan identitas, serta pergerakannya yang selama ini hanya sebatas gencar di media sosial namun tidak dalam dunia nyata. Narasi tersebut membuat supaya masyarakat setempat lebih mementingkan kepentingan masyarakat sekitar, tetangga kita, yang sedang mengalami kesusahan dan menghadapi bencana alam.
Respon yang berbeda satu dengan yang lain di kalangan masyarakat Indonesia merupakan suatu hal yang lumrah. Walaupun sebenarnya, tidak perlu berpikir terlalu jauh untuk bisa memberikan dukungan kepada Palestina karena secara tabiat manusia memiliki sifat simpati dan empati kepada orang lain yang sedang tertimpa musibah dan itu dirasa cukup untuk bisa memberikan dukungan terhadap Palestina. Penulis masih penasaran dengan pola pikir masyarakat yang masih acuh tak acuh terhadap kondisi di Palestina. Apakah dalam hidup mereka tidak pernah menggunakan perasaan dalam melihat suatu musibah? Apakah hanya bermodalkan keuntungan saja? Atau mungkin nurani mereka telah mati? Wallahu A’lam
Dalam ranah diskusi internasional, di mana tidak semua pihak yang terlibat beragama Islam – bahkan ada yang tidak beragama – membawa kita pada suatu kesimpulan bahwa kita, bersama-sama, harus memandang isu Palestina ini dari kacamata lebih luas, yakni perspektif kemanusiaan. Manusia yang normal semestinya memiliki sisi ini, entah besar atau kecil pengaruhnya dalam kehidupan. Lantaran, manusia adalah makhluk sosial.
Keseluruhan hal mengenai kejahatan kemanusiaan, apartheid, persekusi, dan seluruh dampak negatifnya telah menjadi kampanye positif secara global, sebagaimana dapat dilihat dari banyaknya statement pro-Palestina. Para warganet di seluruh dunia yang banyak menyebutkan “You don’t need to be Muslim to stand up with Gaza. You just need to be human.” Dengan kata lain, inilah ujian kemanusiaan bagi kita, manusia. Maka, sejalan dengan kejahatan kemanusiaan yang ada di depan mata, sudah sepantasnya kita mengirimkan bantuan kemanusiaan. Di manapun kejahatan kemanusiaan terjadi, di situ kita harus bersuara, bereaksi, dan membantu semampu kita.
Pada kenyataannya, kondisi Palestina saat ini tidak terlepas dari ketidakmampuan umat Islam dalam menghadapi Zionis Israel yang terus melakukan ekspansi di wilayah palestina sejak klaim kemerdekaannya di tahun 1948. Seharusnya kondisi ini tidak boleh membuat kita menutup mata apalagi sampai terlena karena kondisi aman dan nyaman di bangsa ini. Sikap kita seorang muslim terhadap saudaranya yang sedang menderita sebagaimana perkataan Shalahuddin Al Ayyubi.
“Kaifa Abtasim, wal Qudsu asiir?”
Bagaimana aku bisa tersenyum sedangkan Al – Quds terjajah?
(Dikutip dari akun edgarhamas.tumblr.com)
Afif Nur Fauzan
