“Mas, ada paket?”
Pertanyaan ini selalu saja masuk ke chat WhatsApp. Kalau ada pesan ini, saya ketawa, kadang mangkel juga. Sebab, kalau ada paket pasti akan saya kabari ke mereka. Semenjak penjualan buku-buku yang agak “ideologis” benar-benar terjun bebas, pada akhirnya saya terbiasa juga. Untuk apa? Untuk membiarkan buku-buku tersebut. Saya yakin, kalau ada yang butuh nanti juga ada yang nyari.
“Mas, omset per bulan rata-rata sampai berapa?” dan pertanyaan sejenis sering ditanyakan kawan, atau orang yang biasanya mewawancarai (paling sering tugas mahasiswa). Saya juga ketawa dan kadang agak mangkel. Jawab saya, “Selalu mines.”
Ya, betul. Sepanjang tahun ini, memang mines. Sebelumnya? Naik turun. Bahkan, dulu saya pernah bercerita soal bagaimana kami rugi cukup banyak karena pelarangan suatu buku yang sudah kami cetak.
“Kalau mines terus, terus untuk sehari-hari dapat dari mana, Mas?” Biasanya, pertanyaan lanjut ke situ. Biasanya saya jawab, “Ya, dari nguli.” Maksudnya, dari apa yang bisa saya lakukan. Saya bisa ngedit, ya saya buka jasa edit. Saya bisa nggambar, ya saya buka jasa nggambar. Saya bisa ndesain, saya buka jasa desain. Dan seterusnya, sampai jasa bikin action figure.
Kalau diingat-ingat, memang bikin ketawa, tapi juga kadang bikin mangkel. Namun, waktu terus berjalan. Waktu terus berlalu. Satu detik yang lalu, sudah jadi masa lalu. Kini, saya sudah tidak mempedulikannya. Saya pikir, masih banyak orang yang lebih berat ketimbang soal mines atau soal rugi materi. Saya hanya perlu sedikit untuk membiasakan dan keluar dari “zona nyaman”. Setelah keluar, saya yakin semua hal yang tadinya baru akan menjadi normal.
Saya pernah membaca kisah seorang Ibu yang terkena kanker sumsum tulang belakang. Kalau tak salah, Ibu tersebut tinggal di Cibinong (mohon maaf kalau salah, karena saya agak lupa). Maklum, kisah ini ditulis di buku yang terbit tahun 2008 atau 2009, terbitan Tarbawi Press. Tunggu dulu, ini bukan sekadar kisah Ibu melawan kanker. Menurut saya, ini kisah perjuangan.
Sewaktu kecil, ia tak punya rumah tetap. Berpindah-pindah itu biasa. Orang tuanya sering meminta izin kepada empunya lahan untuk menggarap lahan dengan sistem bagi hasil, serta tinggal di situ. Jadi, rumahnya pasti bukan permanen. Ia didewasakan oleh keadaan. Sejak SD, ia sudah jualan sayur di sekolah. Biasanya, guru-guru sering beli. Sampai SMU, ia juga masih berjualan seperti itu. Jika kawan-kawannya berangkat dengan segar dan wangi, tidak baginya. Ia selalu berkeringat dan lusuh. Di masa muda yang dihabiskan dengan berjualan itu, ia sudah mulai kerasa sakit-sakitan. Mulai dari sering keram, sering mimisan, sakit di bagian tertentu yang benar-benar tak tertahankan. Namun, karena ia tahu kondisi keluarganya. Ia tak pernah mengeluh.
Setelah SMU, ia lanjut kuliah. Dari mana biayanya? Dari bekerja. Apa saja dilakukan asal halal. Mulai dari merawat lansia, mengajar, berjualan, dan sebagainya. Semasa itu, ia memutuskan menikah muda. Sayangnya, mertua kurang suka. Bahkan, mereka tak boleh tinggal bersama. Praktis, untuk bsia bersama, hanya bisa beberapa kali dalam sebulan. Dari pernikahan ini, ia dikaruniai seorang anak.
Suatu ketika, suaminya bilang kalau ia punya hubungan dengan perempuan lain. Bahkan, ia akan menikahinya. Kabar tersebut membuatnya cukup bingung. Ia segera menemui perempuan yang dimaksud.
Ia bingung karena harus menerima perempuan lain, tetapi ia juga senang karena ia akan memiliki status istri sah, termasuk anaknya akan punya akta. By the way, pernikahannya dengan suami masih siri (belum tercatat resmi di KUA/pengadilan). Otomatis, anaknya juga belum punya akta. Sehingga ia mengajukan syarat bahwa pernikahan tersebut bisa berlangsung dengan catatan pernikahannya dimasukkan ke catatan formal, dalam pernikahan berarti suaminya bukan bujang, dan yang paling penting adalah anaknya punya akta. Di sini, ia menekankan pada akta anaknya. Ia tidak terlalu peduli dengan nasibnya yang diduakan.
Ketika pernikahan berlangsung, ia jatuh sakit. Sakit yang merupakan efek dari kanker ditambah sakit secara psikis membuatnya makin terpuruk. Setelah suami dan istri barunya berkhianat dengan mengaku bahwa statusnya masih bujang, ia semakin drop. Bahkan, dalam kisahnya pernah beberapa bulan terkapar (lumpuh). Ketika tahu kalau sakitnya adalah kanker, dokter sampai mengatakan hanya tersisa empat bulan untuk “penentuan”.
Di tengah sakit fisik dan mental yang mengerikan, anaknya yang kecil menyapa dengan lembut. Ia seketika sadar. Ia masih harus berjuang untuk anaknya. Lalu, apa yang terjadi? Ia menguatkan mental dan mencoba menerima keadaan serta apa yang terjadi. Ia mulai berobat, termasuk ke pengobatan alternatif (herbal), membaca buku-buku Islam, dan terus berdoa.
Sampai kisah ini dituturkan di sebuah buku, Ibu ini telah mempunyai bisnis bersama temannya sebagai pengepul kertas bekas dibantu 20 orang anak buah. Mohon maaf kalau saya belum bisa menyugukan kisah ini dengan lengkap. Namun, kisah Ibu ini benar-benar hebat menurut saya. Bayangkan saja, jika saya meminjam kosa kata Puthut EA “Hidup ini brengsek”, maka Ibu ini telah menghadapi “kebrengsekan” hidup sedari dini. Ditambah lagi “kebrengsekan” seorang lelaki yang berkhianat. Kalau kita berada di posisi Ibu ini, apakah kita bisa tegar? Entahlah. Ini “gila”.
Ibu ini juga mengajarkan kita tentang perlunya untuk “melupakan” masa lalu, dan segera mengganti konsentrasi hidup ke masa sekarang dan yang akan datang. Jika tidak karena suara buah hatinya, jika tidak karena kesadaran dirinya, bisa saja Ibu ini sudah tak mau melanjutkan hidup.
Saya pikir, kita belajar sejarah bukan untuk meratapi atau menangisi masa lalu, tetapi untuk mengambil pelajaran berharga yang bisa digunakan untuk masa kini dan yang akan datang. []
Viki Adi N
