Tanah itu selalu jadi rebutan. Dari dulu sampai sekarang. Padahal, tanah itu tak kemana-mana. Antara keluarga saja, bisa saling bunuh hanya karena soal tanah. Hanya karena soal warisan. Kurang banyak info mengenai hal ini?
By the way, harga tanah itu mahal. Coba saja kalian bekerja mendapat gaji sebesar UMR di (Provinsi) Yogyakarta. Kapan bisa beli tanah? Itu tak mungkin. Hanya di alam mimpi atau khayalan belaka.
Itu keluarga, bagaimana kalau relasi kuasa? Nah, itu Rempang. Sebelumnya, Wadas. Sebelumnya lagi? Ah, terlalu banyak.
Kalau Sultan Siak yang pernah memberikan begitu banyak gulden untuk kemerdekaan RI bangkit lagi—sayangnya, tak ada ilmu yang bisa membangkitkan orang mati—, maka ia dipastikan akan menarik uang tersebut. Lalu?
“Seraaang!” Wah, bisa ada peperangan dahsyat. Saya tidak tahu apakah PBB akan turut ambil bagian mendamaikan, membiarkan, atau justru ingin ikut mengambil info bagaimana bisa berinvestasi di sana.
Tapi, itu hanya imajinasi di kepala. Nyatanya? Entah! Apakah tidak ada cara yang lebih baik? Mungkin, elit saat ini perlu membaca sastra. Perlu membaca kisah-kisah lampau bagaimana penguasa bisa menaklukan hati rakyat. Tak sembarang antem-antem saja. Saya bercanda (tolong jangan ulangi kata “bercanda” dengan nada alay anak kampus Gajah Mada).
Janji tinggal janji. Para elit yang pernah berjanji di kampanye, nyatanya tak bisa berbuat apa-apa. Terus, besok coblosan mau milih apa? Pasang saja foto 3×4 milik sendiri, atau foto idola kalian, atau foto anime kesukaan, di lembar pemilihan. Lalu, coblos! Puas sekali.
Eh, sebentar-sebentar. Lah, itu posternya sudah muncul di jalan-jalan. Tak kalahnya, membanjir di media sosial. []
Viki Adi N
