Dari Menyumbang Buku sampai Ajal yang Segera Tiba

Berikut kami lampirkan proposal.

Apakah berkenan menyumbangkan buku?

Kami mengajukan sumbangan buku.

Dan seterusnya. Dulu, sering sekali permintaan seperti itu datang ke Gaza. Alhamdulillah, sekarang sudah tidak lagi. Kenapa alhamdulillah? Begini ceritanya.

Soal uang? (Emang pernah saya punya uang?) Soal rugi? Bukan itu persoalannya. Saya agak malas menanggapi soal sumbang menyumbang buku, apalagi jika permintaan itu datang dari perpustakaan atau tempat baca semacamnya.

Loh, bukannya itu amal jariyah? Bukannya itu sedekah?

Betul. Tapi, bukan itu. Saya sedih saja jika buku yang disumbangkan tidak dibaca. Jika buku tersebut masuk perpus atau tempat baca, besar kemungkinan tidak akan dibaca. Praktis, hanya jadi koleksi yang memenuhi rak saja.

Makanya, saya lebih suka menyumbang buku itu ke person langsung. Mengapa? Karena suatu saat pasti akan ia baca. Itu jelas akan lebih berguna. Jelas akan lebih bermanfaat. Ketimbang hanya jadi pajangan kan?

Jika ada penulis yang menitipkan buku untuk disumbang, biasanya saya jalankan amanah sesuai permintaannya. Tetapi jika tidak ada permintaan, pasti saya kasihkan ke person. Tidak untuk perpus, kecuali ada amanah yang memang salah satunya harus untuk perpus.

Ganti cerita. Sekarang?

Sekarang, buku fisik itu (seperti) mau menuju arah kematian saja. Gonjang-ganjing tak jelas. Apanya yang tak jelas? Kalah sama gawai. Generasi sekarang praktis memilih gawai. Itu tak perlu disoal.

Bagi orang yang suka menulis sastra, aplikasi semacam Wattpad, KBM, dan semacamnya jadi pilihan terbaik ketimbang berpusing ria menanti naskah berbulan-bulan di penerbit yang katanya disebut mayor. Menurut saya, mayor minor itu istilah lama. Lah, wong kalian mau bikin penerbit sendiri saja bisa. Kalian menerbitkan buku secara mandiri saja bisa.

Apa bisa dapat uang dari nulis di aplikasi? Ya, bisa. Tinggal dimonetisasi. Kalau tulisan dibaca banyak orang, penerbit fiksi akan datang berbondong-bondong menawarkan diri. Kalian tak perlu bersusah payah mencari publisher. Itu pun kalau kalian mau buku itu dicetak.

Walau begitu, buku fisik—meski mau mati saja—, ia tetap akan hidup. Yakini saja, toh, orang-orang pintar, ilmuwan, akademisi, mereka akan tetap mempublikasikan riset dan tulisan-tulisannya melalui buku. Dan buku akan tetap menjadi sumber (biasanya yang utama) untuk daftar pustaka para peneliti selanjutnya. Begitu terus kaidah-kaidah ilmiah yang telah umum dan jamak diketahui. Kecuali, kalau senarai pustaka itu berganti bukan buku lagi. Lah, kalau bukan buku lantas apa?

Ya, saya juga tak tahu kalau itu. []

Viki Adi N

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *