Pada pagi ini, saya ingin berbagi tips bagaimana meringankan kerja editor tulisan atau buku. Tips ini ditulis berdasarkan pengalaman. Dengan begitu, tulisan ini bersifat pribadi dan benar-benar “menurut saya”.
Meringankan kerja editor itu sebenarnya tidak wajib. Hanya saja, kalau tulisan itu “ringan” atau “ramah” edit, artinya si penulis memiliki keterampilan dalam mengolah kalimat agar lebih enak atau mudah diterima pembaca. Begitu juga sebaliknya, jika tidak ramah edit, maka keterampilan si penulis dalam hal menyampaikan masih perlu ditingkatkan.
Kekurangan tulisan atau naskah tidak ramah edit, juga memungkinkan penerbit akan menolak atau mengembalikan naskah ke si penulis. Ada yang langsung ditolak, ada juga yang meminta direvisi terlebih dahulu. Selain hal tersebut, jika naskah tidak ramah edit itu langsung dijadikan buku tanpa melalui proses editing atau penyuntingan, maka bisa dipastikan pembaca akan dibuat bingung dan pusing. Tentu saja pusing dalam hal mencerna maksud si penulis. Pembaca yang teliti dan berpengalaman akan merasakan hal-hal yang begitu detail terhadap suatu buku. Bahkan tak hanya melihat konten, mereka juga melihat sisi-sisi lain seperti: sampul, layout, typo, penggunaan gaya bahasa, cetakan buku, aroma kertas, hasil binding, dan lain sebagainya.
Di bawah ini, saya coba merangkum tips berdasarkan pengalaman (yang sedikit) dalam menyunting tulisan atau naskah yang pernah ditemui.
Pertama, membaca ulang (bahkan berulang-ulang) tulisan atau naskah yang ditulis sebelum dikirim ke penerbit. Tips ini sederhana, namun hasilnya cukup lumayan. Kita akan menemukan kekurangan-kekurangan yang bisa diperbaiki, misalnya ada typo, ada kalimat yang mengganjal, ada kata yang kurang pas, ada kata-kata yang sering terulang dan tidak efektif, penggunaan partikel yang berulang sehingga cukup mengganggu, dan lain sebagainya.
Kedua, selain dari isi, tulisan atau buku juga dilihat dari cara menyampaikan atau menyajikannya. Kata lainnya adalah nilai keterbacaan. Cara penyajian atau penyampaian yang mudah dan ringan, pasti akan disukai dan tentu saja mudah diterima oleh para pembaca. Nilai keterbacaannya tinggi. Jika tema yang dibahas menarik tapi tulisan sulit dicerna dan membuat pembaca lari karena penyampaiannya yang kurang memudahkan, maka ada yang keliru. Nilai keterbacaannya rendah dan perlu ada revisi atau penyuntingan ulang.
Terkadang dalam suatu tulisan, kita menemui istilah-istilah tertentu yang terasa asing di telinga. Kita dibuat bingung apa arti dan maksudnya, sampai-sampai harus googling. Jika kasusnya seperti ini, apalagi tulisan tersebut ditujukan kepada publik, maka kita selaku penulis harus memberi catatan-catatan tentang istilah asing atau sulit tersebut. Jangan membiarkan pembaca bingung, kecuali istilah itu memang lazim digunakan dalam kepenulisan atau sudah masuk KBBI.
Ketiga, alangkah lebih baik gunakan kalimat yang pendek-pendek saja. Tak perlu menggebu-gebu menggunakan kalimat-kalimat majemuk agar seolah dianggap keren. Gunakan seperlunya saja jika memang akan menggunakan kalimat yang panjang atau majemuk. Kalimat yang pendek dan mudah dicerna itu jelas lebiih baik dari segi keterbacaan, lebih mudah untuk dipahami. Jika kita menemui kalimat-kalimat yang panjang, segera putus dan pisahkan menjadi beberapa kalimat. Penulis-penulis baru kerap menggunakan kalimat-kalimat panjang atau majemuk. Namun, saya memaklumi hal tersebut. Namanya saja masih baru dan belajar.
Keempat, hati-hati dalam mengutip. Dalam hal ini, saya ingin menekankan pada soal “isi”, bukan soal tidak mencantumkan sumber. Soal cantum dan mencantumkan sumber, saya rasa kita semua sudah paham. Telah begitu banyak tulisan yang membahas soal tersebut.
Di sini, saya ingin menekankan pada soal keabsahan isi. Misalnya kita mengambil kutipan untuk menguatkan gagasan yang sedang kita bangun, tetapi ternyata ada kesalahan (entah itu typo, ketidakjelasan kalimat, atau yang lainnya) dalam kutipan tersebut. Apa yang harus kita lakukan? Jika penulisnya masih hidup, kita bisa bertanya kepada si penulis jika memungkinkan. Jika tak memungkinkan, atau bahkan penulisnya sudah tiada, maka cara terbaik adalah mengganti dengan kutipan yang lain, kecuali kesalahan dalam kutipan tadi mudah dikoreksi, misalnya soal typo. Di sini kita bisa menambahkan “kata yang benar” di dalam kurung dengan menambahkan kata sic! di awal “kata yang benar” tersebut.
Jangan paksakan! Itu pesan saya. Jangan keterlaluan untuk mengubah kutipan atau kalimat milik orang lain agar sesuai dengan maksud kita.
Tips-tips berkaitan dengan hal ini, kita juga bisa mengacu pada aturan-aturan atau kaidah penulisan ilmiah atau “formal”. Tentu saja untuk menjaga dari plagiasi, kesalahan mengutip, dan semacamnya.
Kelima, pakai perasaan. Tips kelima ini nyambung dengan tips pertama. Menulis itu perlu hadirkan rasa. Baca berulang, pahami, hayati, rasakan. Saya yakin akan mudah untuk menemukan mana kata atau kalimat yang kurang enak dibaca. Ingat! Kita sedang tidak menyusun esai atau tulisan penelitian sebagaimana skripsi, tesis, dan sejenisnya. Kita sedang menulis buku yang targetnya adalah “publik”. Melatih rasa menurut saya penting. Kita bisa melakukan dan melatihnya setelah menulis, yakni dengan membacanya berulang-ulang lagi.
Sepertinya, lima tips di atas sudah cukup untuk pagi ini. Kapan-kapan akan disambung lagi jika saya menemukan sesuatu yang baru. Semoga bermanfaat. []
Viki Adi N
