Mungkin, anak-anak di perkotaan bingung melihat tradisi sebagian masyarakat (apalagi desa) yang berkeliling untuk sungkeman atau meminta maaf atau bahkan sekadar silaturahim. Sebenarnya hal itu wajar. Mereka besar dalam lingkungan yang nyaris jarang berkumpul antara tetangga satu sama lain kecuali pada acara tertentu saja.
Kebanyakan warga pergi pagi pulang sore. Begitu juga anak-anaknya, sekolah dari pagi, pulang juga sore. Sekolahnya full day. Jadi semuanya otomatis full day, dari orang tua hingga anak-anaknya.
Beda halnya mereka, anak-anak di desa. Melempar pohon kedondong, mencuri mangga, manjat pohon jambu, bahkan sampai melempari petasan ke rumah-rumah tetangga itu sudah jadi kenakalan lazim versi mereka, dan masih begitu banyak kejahilan serta kecerobohan yang dilakukan sampai kadang-kadang para orang tua geleng-geleng kepala. Kadang para orang tua saling melabrak dan melaporkan tingkah nakal anak-anak mereka. Marah sembari ketawa. Mangkel tapi lama kelamaan juga hilang.
Mungkin itu salah satu dari sekian banyak alasan mereka masih merasa ingin meminta maaf di hari raya. Berbeda dari mereka, anak-anak yang berada di kota, mungkin mereka punya alasan logis, yakni bingung mau meminta maaf atas kesalahan apa. Lebih realistis. Ya, mereka mau nyabut singkong siapa di kota? Mereka mau ngambil rambutan siapa? Mereka mau ambil jambu siapa? Lah, pohonnya saja tak ada.
Meski begitu, alasan silaturahim tetaplah masih ada. Itulah mengapa tradisi hari raya sebagaimana di Indonesia masih tetap terus terjaga. Hanya saja, ini adalah tradisi. Entah suatu kapan, entah abad kapan, yang namanya tradisi itu bisa saja berubah bahkan dalam kasus tertentu bisa saja hilang. Semua bergantung pada kebutuhan. Apakah masyarakatnya masih memerlukannya? Apakah masyarakat masih merasa membutuhkannya?
Misalnya, di tempat kelahiran saya, dulu ada tradisi sedekah bumi. Hasil panen warga yang dimiliki disisihkan sebagian, kemudian dibuat makanan, lalu dikumpulkan dan dibagikan lagi. Di situ kita berdoa bersama dan memanjatkan syukur kepada Allah SWT atas limpahan rezeki dan karunia yang telah diberikan. Tak lupa selalu memohon agar di tahun-tahun berikutnya juga diberikan hasil yang berlimpah dan berkah. Jadi setiap warga yang memiliki hasil panen berbeda, bisa saling tukar dan menikmati. Dari mulai pisang, singkong, ubi-ubian, sampai nasi. Itu zaman saya bocil, zaman sebelum taman kanak-kanak. Tetapi kini? Sudah hilang. Lenyap tak berbekas.
Apa tradisi itu buruk? Tidak! Bahkan menurut saya sangat baik. Nilai tradisi itu luar biasa, dari mulai perwujudan rasa syukur hingga kebersamaan atau saling berbagi. Tetapi mengapa bisa hilang? Bisa jadi karena masyarakat sudah tidak memerlukannya. Sudah tidak membutuhkannya. Termasuk karena banyak generasi yang memilih merantau ke kota-kota dan tidak bekerja ke kadang atau sawah. Jadi, para pendakwah Sunnah sebenarnya tidak perlu main bidah-bidahan dan main keras-kerasan dengan kalangan tradisional atau masyarakat yang masih memiliki banyak tradisi. Lah, suatu saat kemungkinan tradisi itu akan hilang dengan sendirinya. Memang butuh waktu lama. Namanya saja sudah jadi tradisi, sudah jadi budaya.
Begitu juga tradisi berkeliling, di tempat kelahiran saya nyaris banyak berubah. Bisa dikatakan malah sudah sepi. Bahkan, untuk menjaga agar tradisi saling memaafkan itu berjalan, sampai-sampai warga satu RW (satu RW biasanya dinaungi satu mushola/surau di tempat saya) setelah sholat idul Fitri berkumpul bersama di mushola untuk saling bermaafan dan silaturahim. Jadi tidak langsung di rumah. Perhelatan ini baru terjadi di tahun ini. Tahun-tahun sebelumnya tidak begitu, ya seperti biasanya berkeliling. Memang, semenjak korona tradisi itu semakin menghilang dan semakin sepi saja. Itulah mengapa diadakan “tradisi” baru, yakni berkumpul di mushola dan saling bermaaf-maafan di situ. Biar semuanya bertemu.
Itu pengalaman saya mengamati beberapa tradisi. Bagaimana di tempat kalian? Apakah kalian mengalami juga punah dan munculnya tradisi-tradisi? []
Viki Adi N
