“Dor! Dor!” Suara dentuman amunisi dalam game Free Fire itu menambah semarak anak kecil yang berkumpul bermain bersama. Namun agaknya suara dentuman itu masih kalah oleh suara sejenis yang lebih keras dan meninggalkan jejak yang lebih riil.
Petasan telah membubarkan mabar mereka sejenak di hari-hari terakhir Ramadhan. Meski sejenak, petasan telah membuat mereka berkumpul kembali untuk menjamah kertas-kertas beraroma bubuk ala mesiu. Mungkin mereka ingin mencoba medan Free Fire di alam nyata sembari menghirup aroma kertas dan tinta yang telah disulap menjadi aneka geranat.
Huruf-huruf hijaiyyah yang dilantunkan di masjid, musholla, rumah-rumah dengan gegap khusyuk untuk menggapai Lailatur Qadar ternyata di sisi lain telah disulap menjadi granat versi petasan. Temuan itu bisa kita lihat di media beberapa hari yang lalu. Kreatifnya orang Indonesia memang tak terkalahkan, meski itu sungguh kelewat batas.
Buku-buku yang seharusnya didaras, disimak, dan diperlakukan layaknya sebagai sarana ilmu dan teman duduk paling baik juga tak kalah mengenaskannya. Tinta-tinta hitam yang menjadi saksi pengejaran nilai dalam dunia pendidikan itu telah menghilang dan menguap, tercabik-cabik, dan ah tiada jejak. Tersisa cabikan-cabikan kertas yang telah menjadi sampah. Layaknya Pendidikan formal kita yang pada akhirnya berujung pada sia-sia dan membawa manusia yang hanya berorientasi seperti robot, kerja, kerja, dan kerja.
Sayang sekali, buku-buku sebagai wahana berbagi gagasan dan kritik, telah menjadi mainan dalam pusaran jual beli yang entah menguntungkan atau tidak. Tentu saja menguntungkan jika tidak diakhiri dengan perampasan oleh pihak yang katanya dianggap “berwenang”. Tapi tetap sayang kan? Setidaknya kertas yang dicabik-cabik itu jika ia bangkit dan hidup akan menggumam, “Dasar manusia biadab!”
Eits, tenang saja. Mereka tidak akan hidup! Yang hidup adalah akal kita. Hari ini, di sini, di mana pun kita berada, padahal “kertas” telah tersedia. Tinggal kita “goreskan” saja. Sebagian “kertas” itu juga telah menjadi bahan bacaan di tangan.
Entahlah, manusia itu memang kadang-kadang. Terlalu mudah mungkin pikirnya, sehingga pada akhirnya kita terlalu meremehkan dan menyepelekan. Pada faktanya, gagasan-gagasan besar, orang-orang besar, lahir dari keterbatasan. Mereka menjadi besar karena bisa melampaui keterbatasan itu. Jika semua sudah ada dihadapan kita, ada digenggaman kita, lalu apa yang menjadi keterbatasannya? Mungkin memang diri kita sendiri yang jadi penyebabnya. []
Viki Adi N
