Setelah beberapa waktu lebih sering menulis lewat handphone, laptop pun lebih banyak nganggurnya. Hal itu juga mungkin karena laptop lebih afdhol untuk menulis tema-tema yang serius, dibanding dengan handphone yang biasanya tulisannya relatif lebih ringan dan pendek seperti tema-tema keseharian.
Saat memulai menulis kembali dengan laptop sempat terlintas dalam benak saya, “Kalo para Ulama dulu di bekali teknologi seperti halnya laptop ini, mungkin karya yang tersebar akan jauh lebih banyak.” Walaupun begitu, saya menyadari bahwa alat menulis tradisional yang dulu di pakai tetap menghasilkan karya yang baik dengan kuantitas yang tak sedikit. Bahkan karya para ulama terdahulu masih bisa kita nikmati hingga kini. Termasuk dalam fadhilah dan manfaatnya.
Dengan melihat kenyataan itu, mungkin kita bisa simpulkan bahwa bukan kemudahaan teknologi atau alat yang membuat orang-orang terdahulu berkarya dan produktif, tapi memang kemauan yang kuat untuk melahirkan karya yang membawa manfaat pada umat.
Kemauan dan semangat yang kuat itu bukan tanpa sebab. Itu semua terjadi karena ikhtiar mereka dalam mencari dan mendapatkan ilmu bukan main-main. Mereka mengorbankan segalanya mulai dari waktu, harta benda, hingga tenaga, bahkan tak sedikit harus melewati ujian dalam perjalanannya. Mereka kerahkan itu semua demi untuk menghidupkan agama Islam. Tentu semangat mereka patut kita tiru dan teladani.
Hari ini, dengan segala kecanggihan teknologi seharusnya kita bisa memanfaatkannya seperti halnya orang terdahulu. Saat ini kita bisa menulis dimanapun dan kapanpun dengan gadget kita. Maka, sudah seharusnya kita memanfaatkannya. Bukan hanya sebagai wadah eksplorasi sosmed namun juga sebagai wadah kebermanfaatan. []
Akhmad Suhrowardi
