Kemanusiaan Itu Lebih Penting

Di tulisan terdahulu, saya pernah mengatakan kalau pemerintahan sekarang itu begitu kuat. Dulu saya mencontohkan bagaimana Omnibus Law (RUU Ciptaker) yang ditolak di mana-mana dan ditolak hampir oleh sebagian besar kalangan ternyata tetap jalan terus. Demo di mana-mana diabaikan. Nyatanya tetap diketok palu.

Kenapa bisa seperti itu? Ya, karena pemerintahannya memang sangat kuat. Tak hanya di lembaga eksekutif, tetapi juga di lembaga lainnya.

Ini sama halnya dengan akhir cerita dibatalkannya Piala Dunia U-20. Banyak dari warganet yang menyalahkan kaum oposisi, radikal, kadrun, atau apalah sejenisnya karena menolak kedatangan Israel dalam laga tersebut. Padahal, kekuatan partai penguasa itu justru lebih besar. PDIP beserta beberapa pejabat daerahnya kan memang menolak Israel juga. Bahkan, gubernur Bali sampai melayangkan penolakannya dalam bentuk surat. Sampai di sini, seharusnya kita paham dan bijak menyikapinya.

Nah, soal apakah itu ada hubungannya dengan tahun politik 2024, kita tak tahu. Soal apakah itu karena melanjutkan keteguhan sikap Soekarno mengenai Palestina dan Israel, kita juga tak tahu. Tapi faktanya memang begitu. Mungkin sebagian kalangan di PDIP juga kecewa karena kebijakan soal penolakan Israel yang akhirnya berujung pada dibatalkannya laga U-20 tersebut.

Jika mau melihat lebih jernih lagi, sebenarnya FIFA juga pasang standar ganda. Di Piala Dunia Qatar kemarin, FIFA mengeluarkan Rusia kan? Tapi mengapa tak mengeluarkan Israel? Ya, begitulah dunia. Seharusnya jika FIFA adil, penjajah itu tinggal dibanned saja. Persoalan pun selesai.

Sahabat semua, kemanusiaan itu lebih utama dibanding hanya sepak bola. Israel itu penjajah yang hari ini memang benar-benar disebut penjajah. Ia adalah negara yang tidak mau melakukan perdamaian. Ia ingin mengambil semua wilayah negara Palestina. Ia tidak mau menyelesaikan konflik tersebut. Kita perlu melihat ini lebih jernih. Saya pernah mengulas soal ini di buku Pada Sebuah Bahtera Politik.

Saya tak terlalu mencermati dunia sepak bola sehingga tak bisa memberi pendapat lebih banyak mengenainya. Hanya saja, selepas tragedi Kanjuruhan yang begitu memilukan, perbaikan sepak bola di Indonesia memang perlu terus dilakukan. Lalu, keikutsertaan timnas di Piala Dunia U-20 yang berujung gagal seharusnya tak terlalu membuat para pemain, kru, serta masyarakat bersedih. Timnas bisa ikut serta itu karena sebagai tuan rumah, bukan karena lolos kualifikasi. Kita sama-sama tahu kalau laga ini dilakukan setiap dua tahun sekali. Masih ada kesempatan untuk memperbaiki, meski mungkin generasinya akan terus berubah. Terlalu lebay lah istilahnya jika ada salah satu pemain yang menyatakan bahwa mimpinya telah terkubur.

Sebagai manusia, kemanusiaan itu hal yang utama. Apalagi jika dibandingkan hanya dengan gagalnya timnas bermain atau karena Indonesia tak menjadi tuan rumah. Sikap menolak penjajah itu adalah amanah undang-undang dasar. Warganet yang marah, juga perlu protes ke undang-undang dasar dan para founding fathers negeri ini. []

Viki Adi N

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *