Orang yang cerdas pasti ingin agar pahala amalnya melebihi usianya. Seperti halnya orang-orang terdahulu. Mereka sudah wafat, tapi pahala amalnya masih mengalir hingga sekarang. Orang-orang itu adalah sebaik-baik manusia yang memanfaatkan waktu hidup. Mereka tidak menyia-nyiakan kesempatan yang telah Allah berikan untuk beramal dan mencari bekal.
Nabi saw mengatakan bahwa amal jariyah di gapai dengan tiga hal yakni sedekah jariyah, ilmu bermanfaat, dan anak sholeh yang mendoakan orang tuanya. Masing-masing mempunyai keutamaannya. Bagi kita yang suka menulis tentu akan bertanya-tanya. Bagaimana keutamaan menulis? Apakah masuk dalam pahala jariyah?.
Kita tentu sering menyaksikan kitab-kitab turats yang di tulis oleh ulama terdahulu yang sering sekali di baca ketika pengajian di surau-surau terdekat. Itu adalah tulisan yang sudah beribu tahun lamanya, namun manfaatnya masih bisa kita rasakan sampai sekarang. Karya mereka tak termakan zaman. Padahal mereka hidup kurang lebih 60 tahun tapi dengan karya-karyanya itu mereka tetap mendapatkan pahala sampai hari ini. Lantas, pelajaran apa yang dapat kita petik sebagai seorang penulis?.
Kita mungkin bisa menggapai amal jariyah melalui sedekah jariyah seperti halnya wakaf ataupun mendidik anak yang sholeh. Begitupun juga dengan menulis ini mempunyai potensi amal yang tak terbatas yakni ilmu yang bermanfaat. Dengan memahami fadhilah menulis ini saya kira kita bisa lebih semangat lagi. Karena ini bisa menjadi dorongan untuk melahirkan banyak karya.
Walaupun prioritas dan loyalitas kita tak seperti ulama dulu yang menyerahkan hidupnya kepada ilmu. Namun, kita juga bisa sedikit mengikuti jejak-jejaknya menggores tinta kebermanfaatan. Saya, anda, dan kita semua bisa menorehkannya. Asalkan mau mencobanya.
Tapi lagi-lagi ini kembali ke diri kita masing-masing seberapa banyak bercengkrama dengan buku, majelis ilmu dan meluangkan waktu untuk menulis. Itulah yang menjadi kunci melahirkan produktifitas menulis dalam keseharian kita. Maka saran saya untuk diri sendiri dan kepada pembaca sekalian, mulailah untuk berfikir dan bertanya kepada diri sendiri. Amal apa yang akan membawa kita ke dalam ridha-Nya? Dan bagaimana kita bisa beramal seperti halnya orang dulu yang beramal melebihi usianya. Dan saya rasa menulis ini jawaban yang sangat relevan dari pertanyaan itu.
Dan pada akhirnya pun kita tidak tidak tahu amal apa yang membawa kita pada ridha Allah Ta’ala, namun bisa jadi itu adalah tulisan-tulisan kecil kita yang bermanfaat. []
Akhmad Suhrowardi
