Beberapa minggu terakhir rasanya saya merasa sangat malas untuk menulis. Entah karena kesibukan atau memang tidak menyempatkan waktu untuk menulis. Justru terkadang lebih akrab dengan gawai atau stik playstasion. Tentu ini bukan contoh yang baik. Kita selalu berdoa untuk dihindarkan dari sifat malas.
Meskipun begitu, aktifitas membaca masih saya lalukan. Akhir-akhir ini saya lebih sering menyempatkan membaca Api Sejarah jilid pertama. Karena memang belum pernah kelar baca sampai tuntas akhirnya saya memutuskan untuk memulai membacanya kembali.
Dari begitu banyaknya bahasan tentang perjuangan para pendahulu khususnya ulama dan santri. Maka saya bisa mengambil kesimpulan. Bahwa tantangan zaman atau ujian yang sedang dihadapi pada masa kini tidak seberat para pendahulu.
Ujian yang kita hadapi di masa kini dari masalah ekonomi hingga politik rasa-rasanya tak seberapa dibanding dengan masa-masa kolonial dulu. Bagi para pekerja saat ini mungkin sedang memperjuangkan kesejahteraannya, kita lihat di zaman dulu ada kerja paksa yang tidak di bayar. Kalau kita melihat hari ini banyak problem di dunia pendidikan maka di zaman itu lebih parah karena tidak semua orang bisa mengaksesnya. Dan dari segala aspek kehidupan bisa kita lihat. Kita membandingkan ini bukan untuk mengecilkan orang di zaman ini, tetapi kalau kita tidak melihat sejarah maka yang terjadi kita mungkin akan gampang menyerah.
Para pendahulu kita memperjuangkan negeri ini bukan hanya dengan harta dan tenaga tapi juga darah dan nyawa. Yang ingin saya sampaikan adalah hari-hari kita saat ini tidak seberat para pendahulu kita dulu yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Maka sudah sewajarnya kita tidak kehilangan arah apalagi menyerah ketika menghadapi tantangan zaman yang terlihat berat. Kalau kita melihat kebelakang (sejarah) tentu ujian kita tak seberat dulu.
Maka cobalah untuk memulai kembali gagasan-gagasan cemerlang ataupun tindakan-tindakan kecil positif, baik untuk diri sendiri maupun untuk orang banyak. Karena mungkin itu salah satu kunci untuk menghidupkan kembali semangat kemerdekaan khususnya bagi para pemuda. Dengan begitu kita tidak hanya menghabiskan masa muda dengan melihat gerak sejarah saja tapi juga ikut mengisi arah sejarah itu sendiri. []
Akhmad Suhrowardi
