Ini adalah kisah nyata. Tulisan ini akan sedikit bercerita mengenai kehidupan. Ketika saya coba mengoper kontrak di tempat Gaza sebelumnya, kisaran concat dan jakal, pesan Whatsapp maupun inbox Facebook lumayan banyak dan bergantian. Dari sekian banyak yang masuk, pertanyaan apakah yang paling banyak disampaikan?
Parkir mobil, parkir mobil, dan parkir mobil. Itu terus menerus. Sebenarnya ini pada nyari kontrakan atau nyari parkiran mobil? Sampai-sampai saya teringat banner-banner di daerah Kota Jogja dekat makam pahlawan yang intinya berbunyi, “Punya garasi dulu sebelum punya mobil.” Saya lupa bunyi kalimat persisnya, tapi kira-kira begitu isi pesan yang ingin disampaikan. Banner tersebut sepertinya menyindir orang-orang yang memiliki mobil tetapi memakai lahan orang lain atau jalan umum untuk parkir.
Kadang saya berpikir, apakah orang-orang lebih memprioritaskan mobil dibanding tempat tinggal? Bukankah tempat tinggal itu lebih prioritas? Pikiran saya tetap mengarah ke situ. Tetapi jika sedikit berprasangka baik, bisa jadi mobil itu memang lebih penting karena menunjang pekerjaannya. Jadi sampai sini, kita akan tahu kalau kebutuhan atau prioritas orang nyatanya memang berbeda-beda. Jika bagi saya tempat tinggal itu lebih penting, mungkin bagi sebagian orang tidak begitu.
Memang benar, jika mobil bagi saya terlalu mewah maka tidak bagi orang yang pekerjaannya membutuhkan mobil. Bisa juga, orang yang mengontrak dan mencari tipe ada parkiran memang tidak sedang berniat memiliki tempat tinggal di sini. Hanya sekadar bekerja. Kemungkinan-kemungkinan lain juga bisa ada. Kita tidak perlu menelisik lebih jauh.
Saya yakin, kita semua di sini punya prioritas juga dalam kehidupan. Tak ingin mengajari, tetapi saya ingin berbagi nasihat: prioritaskan terlebih dahulu hal-hal yang dibutuhkan serta hal-hal yang lebih mendesak. Jangan biarkan hidup kita kalah oleh gengsi dan hawa nafsu. Jangan biarkan hidup kita hancur hanya karena kita salah dalam mengatur prioritas dalam setiap sudut-sudut kehidupan.
Kita tak sedang menyalahkan mereka. Kita bisa saja berprasangka baik seperti yang telah diuraikan. Ketika mengingat soal “parkir” dan “mobil”, saya jadi teringat kepada cerita-cerita kesuksesan para pelapak buku “kiri” yang akhirnya harus berakhir dengan “hilang” hanya karena seperti yang telah diulas tadi: salah prioritas.
Semoga kita selalu dibukakan kesadaran dan dijauhkan dari kebutaan dalam memandang pernak-pernik kehidupan di dunia. []
Viki Adi N
