Menunda Kematian

Sebagai seorang muslim, kita dapat meminimalisir kekacauan agenda harian kita dengan mereset semua jadwal menyesuaikan waktu sholat. Seperti yang kita ketahui, bahwa jadwal sholat fardhu menggunakan timekeepeer yang sama yaitu cahaya (matahari).

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,

“Waktu shalat Zhuhur jika matahari sudah tergelincir ke barat ketika itu panjang bayangan sama dengan tinggi seseorang, selama belum masuk shalat ‘Ashar. Waktu shalat ‘Ashar adalah selama matahari belum menguning. Waktu shalat Maghrib adalah selama belum hilang cahaya merah pada ufuk barat. Waktu shalat Isya’ adalah sampai pertengahan malam. Waktu shalat Shubuh adalah dari terbit fajar selama belum terbit matahari.” [HR. Muslim, no. 612]

Pak Prof pernah bertanya, “Apakah sholat kamu itu seperti meditasi yang ada pengaturan nafasnya?”
Protokol meditasi memang banyak dibahas di dunia kedokteran. Salah satunya adalah mengaitkan protokol meditasi dengan irama jantung (1). Ketika kita dapat mengatur pernapasan, maka kita dapat mengatur ritme paru-paru kita. Jika kita dapat mengatur paru-paru, maka kita juga dapat mengatur ritme jantung kita. Hal ini kemudian membawa pada dugaan lain yaitu jangan-jangan dengan mengatur pernapasan, dapat menunda kematian!

Logika ngawurnya begini, kalau kita punya jatah hidup dengan satu miliar denyut jantung, maka kita harus menghematnya. Dengan demikian, orang biasa yang memiliki denyut jantung 60-100 per menit, maka dia akan mati di usia 30an, sedangkan seorang atlet profesional dan terlatih yang memiliki 40-60 denyut per menit, akan mati di usia 40an. Semua orang dapat menurunkan ritme denyut dengan rutin berolahraga. Dengan demikian, istilah “menunda kematian”, sekarang mari kita ganti dengan istilah “menjaga kesehatan jantung”.

Meskipun demikian, tidak salah juga ungkapan bahwa sholat adalah “meditasi”-nya orang islam. Sholat sangat berperan melatih kita untuk khusyu’ dan fokus.

Menurut ibnu Qayyim Al Jauziyah, kualitas sholat dibagi menjadi lima tingkatan. Tingkat sholat tertinggi disebut muqarrab min Rabbihi (2). Ini merupakan sholat yang dilakukan oleh orang-orang sholeh. Adalah Abu Sa’id Al Khudri RA bercerita bahwa beliau pernah dipanah musuh tepat di jantungnya dan mengeluarkan darah. Saat itu beliau sedang menikmati bacaan surat Al Kahfi dalam sholatnya, sehingga tidak merasakan sakitnya. Bahkan pihak musuh sampai lari tidak jadi menyerang karena beliau dikira bukan manusia. Wong dipanah dua kali masih bisa melanjutkan sholat! Kisah ini menunjukkan dengan nyata bahwa sholat yang khusyu’ benar-benar dahsyat manfaatnya dalam menjernihkan pikiran dan mencegah perbuatan keji dan munkar.

Nurra Keprin

Note:

  1.  C.-K. Peng at al, “Heart Rate Dynamics during Three Forms of Meditation”. Intenational Journal of Cardiology 95 (2004) 19-27
  2. Hamid Fahmy Zarkasyi, “Berislam dari Ritual hingga Intelektual”. Jakarta : INSISTS, Cet.I hlm 67-68

 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *