Beberapa Detik yang Berpengaruh

Jika kita merasa terlalu banyak membuang waktu, mungkin terlalu selow, terlalu santai, dan apalah sejenisnya, sepertinya kita sedang butuh stimulus. Apa stimulus terbaiknya? Kita perlu bertanya pada mereka yang menganggap beberapa detik itu sangat berpengaruh.

Dan, saking berpengaruhnya. Mereka begitu berterimakasih pada waktu tersebut, pada momen-momen tersebut, pada detik-detik itu. Lebih tepatnya berterimakasih kepada Sang pencipta waktu, yakni Tuhan Semesta Alam, Allah Swt.

Saya pribadi adalah orang yang pernah merasakan seberapa berharganya waktu dalam hitungan detik. Kisah ini saya alami sendiri. Jadi, saya jamin original dan bukan KW (pis!).

Pertama, kisah motor dan anak-anak. Sebenarnya jika anak-anak ini yang bercerita, mungkin lebih mengena. Tapi karena kejadiannya di jalan dan secepat kilat berlalu, ya akhirnya kita tidak bisa membuat wawancara seperti di podcastnya CloseTheDoor.

Ketika menyalip mobil dari bahu kiri dengan kecepatan yang ah mantap, tetiba mobil berhenti dan saya tetap melaju kencang. Tak sadar ternyata gerombolan anak dan keluarga ada di depan mobil. Jadi, kalian bisa membayangkan tahu-tahu muncul gerombolan makhluk dari kanan dan motor saya sedang kencang-kencangnya dari sebelah kiri. Hampir saja hanya selisih beberapa detik jika gerombolan tak berhenti, mungkin ceritanya akan lain. Bisa-bisa tumpah darah.

Kisah kedua, ini tentang nyawa saya dan istri. Kalau teringat kejadian ini, saya selalu menengadah dan melantunkan puji syukur. Kejadiannya, saya berboncengan melaju dengan kecepatan di atas 100 km/h (ukuran speedometer di motor). Saya tahu di depan (berlawanan arah) ada mobil. Ya, namanya jalan umum pasti ada kendaraan lain. Tetiba saja muncul dengan gagahnya Bus besar dengan gaya ala tikung menikung seperti di permainan simulator ala gamers menyalip mobil tadi dengan kecepatan yang dahsyat mengambil jalan yang seharusnya saya lewati. Sopir Bus ini apa tidak pernah berpikir ya, kalau di depannya pasti ada kendaraan lain? Dan kacaunya, saya sedang melaju dengan kecepatan di atas 100. Jadi, apa solusinya? Ya, jelas sekali tidak ada solusi. Saya banting setir, maksudnya banting stang, ke kiri dan masuk ke jalan yang bergelombang, berbatu, berkerikil, dan 99% berdebu. Tak lupa, pinggir jalan berbatu tadi hanya selebar 1 meteran, sisanya tanah yang lebih rendah (siap-siap nyemplung). Konyolnya, saya masih sempat menekan klakson panjang meski Bus itu telah lewat begitu saja. Alhamdulillah, saya masih bisa mengendalikan kecepatan motor tersebut di jalan yang berbatu dan sempit tadi. Akhir cerita, kita selamat. Hanya beberapa detik saja saya tak banting stang, mungkin cerita akan lain lagi.

Di tulisan ini saya hanya menampilkan kisah pribadi. Mungkin, kalian punya kisah yang lebih menegangkan berkaitan dengan seberapa detik berharganya waktu.

Tapi yang jelas, kita bisa belajar kepada mereka soal waktu, yakni kepada orang yang hampir saja kecelakaan, kepada mereka yang hampir kehilangan uang karena investasi atau penipuan, kepada mereka yang hampir kehilangan nyawa karena penanganan, kepada para dokter yang mencoba menjaga agar nadi tetap berdenyut di saat pasien sedang kritis, kepada para pembalap, kepada para sniper, dan kepada siapapun.

Peristiwa yang terkadang dianggap sepele ini, sebenarnya telah mengajarkan arti penting dalam kehidupan kita. Mengenai waktu, mengenai kehidupan. Seperti kata Hasan al-Bashri bahwa waktu adalah kehidupan. Kehidupan adalah kumpulan waktu, kumpulan hari-hari, kumpulan detik-detik.

Jadi, jika kita masih merasa sulit untuk menghargai waktu, masih terasa selow, masih belum bisa memaksimalkan waktu dan nikmat luang yang ada pada diri kita, solusi terbaiknya adalah (sekali lagi): tanyakan kepada mereka, orang yang telah mengerti seberapa arti pentinya beberapa detik. []

 

Viki Adi N

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *