Hampir sudah 1 tahun tidak mengkaji pemikiran seseorang atau kelompok dari buku ke buku. Hanya membaca buku seinginnya atau sekenanya saja, sesuka-sukanya. Kesibukan mengurus penerbit, mengejar serta memperbanyak naskah terbitan benar-benar menyita waktu. Bahkan, untuk melancarkan target ini, editor di Gaza Library Publishing (GLP) kini 2 orang. Dan akhirnya, hari ini mulai rindu mengenai aktivitas tersebut—mengkaji pemikiran dari buku ke buku.
Barang kali, yang dilakukan akademisi, salah satunya adalah ini. Namun, karena saya bukan akademisi, jadi mengkaji secara serius dilakukan sewaktu saya ingin saja, atau sewaktu tertarik dengan tokoh atau kelompok tertentu. Jadi, sekarep-karepe, ngga ada “beban” akan tanggung jawab layaknya mereka yang memang dituntut demikian.
Pertama kali melakukan kajian pemikiran dari buku ke buku, tokoh sekaligus kelompok yang saya tuju adalah (Imam) Hasan al-Banna dan al-Ikhwan al-Muslimun. Buku-buku yang berkaitan dengannya saya kumpulkan. Rasanya tampak ganjil, kalau dipikir secara akal sehat, untuk apa semua ini? Saya bukan akademisi, bukan peneliti, tapi memang kembali ke pasal tadi: suka-suka saya saja.
Sayangnya, saya tak melanjutkan hasil pengkajian tersebut ke sebuah buku utuh, yang kini ter-publish palingan esai-esai secara parsial. Untuk naskah buku, seingat saya, mungkin baru jadi setengahnya. Lalu, saya hentikan. Waktu itu pikiran saya sedang begitu banyak. Akhirnya, saya menyadari bahwa untuk melakukan pengkajian semacam ini memang butuh banyak “support”, termasuk dana. Ya, wajar ya, mengapa para dosen demo soal tukin pas kapan itu. Mereka dituntut banyak riset, tapi dananya kurang. Mungkin loh ya.
Kedua, pemikiran al-Kindi. Kalau ini, selain karena sedang mendaras tema filsafat, agak pragmatis juga sebenarnya. Ialah proyek penerbit yang ingin menerbitkan ihwal filsafat Islam. Semasa mengkaji dari buku ke buku, mau tak mau, bahasa menjadi tools paling utama. Kalau kita bisa lancar berbahasa Inggris dan Arab, modal kita untuk mengkaji buku (khususnya buku yang berkaitan dengan keislaman) sudah amat bagus. Sayang, saya tak menguasai semuanya, hanya tahu sedikit-sedikit. Alias kalau membaca teks, mikirnya benar-benar loading, mirip Ram 2GB dipaksa untuk bermain game berat rata kanan. Bahasa Inggris filsafat misalnya, ini agak berbeda, banyak istilah atau kosa kata yang jadi “bermakna” lain. Perlu banyak berpikir dan mencari referensi lagi.
Untuk tema al-Kindi, saya telurkan jadi satu buku utuh secara amat ringkas. Saya tulis dnegan gaya populer, bukan gaya semi-ilmiah. Jadi, kalau buku tersebut dibawa ke kampus atau akademisi, pasti akan dicoret-coret karena dianggap lalai soal kaidah kutip-mengutip atau chitasi. Namun, karena tujuan saya bukan karya semi-ilmiah, memang untuk orang awam, saya menulis dengan gaya populer, semudah mungkin dicerna pembaca, tanpa melupakan referensi atau rujukan utamanya.
Ketiga, nah itu. Rasanya saya akan memulai lagi aktivitas tersebut. Butuh effort memang, di tengah fokusan GLP yang sedang mengejar dan mengumpulkan banyak naskah terbitan. Saya coba untuk menantang diri sendiri, meluangkan waktu sejenak dari waktu istirahat, sudah seharusnya begitu. Kalau tidak, ya nggak bakalan jadi.
Mungkin, itu yang agak serius. Di luar yang tidak terlalu serius, biasanya saya menelusuri referensi tertentu. Misal, saya tertarik dengan Ibnu Khaldun, ya akhirnya saya beli biografi, karyanya, termasuk buku-buku yang mengkaji pemikirannya. Misalnya lagi, saya tertarik dengan ulama Turki yang menyaksikan jatuhnya Ottoman, Said Nursi, akhirnya saya baca biografinya, baca buku-bukunya. Selanjutnya, saya juga pernah membaca pemikiran Seni Islam dari seorang cendekiawan Ismail Raji al-Faruqi maupun seorang ulama, Syekh Yusuf al-Qaradawi, lalu refleksinya dibuat menjadi esai-esai ringkas, dan dijadikan buku. Dan seterusnya, hanya saja, tak semuanya saya jadikan buku secara utuh, biasanya hanya tulisan esai secara parsial saja.
Berarti, hanya buku al-Kindi yang menjadi naskah utuh. Sisanya, sepertinya berserakan dalam bentuk esai saja.
Ini memang keinginan pribadi. Namun, entah mengapa, saya ingin mengajak kawan-kawan semua untuk tour dari buku ke buku. Kalau misalnya, tak mau menuliskannya menjadi satu naskah utuh, toh kita bisa menuliskannya hanya dalam bentuk esai ringkas, video singkat, untuk dibagikan ke orang lain. Saya yakin hal ini amat bermanfaat di tengah dunia yang begitu cepat dan instan. Membuat orang lain yang tadinya tidak tertarik, mungkin jadi tertarik, yang tak tahu jadi tahu, dan seterusnya.
Memang, butuh modal. Namun, dengan banyaknya aplikasi baca gratis, saya pikir bisa sedikit mengurangi modal kita. Kita bisa manfaatkan banyak platform. Jika kita ahli bahasa asing (misal Inggris dan Arab), itu lebih enak lagi, karena begitu banyak naskah lawas yang beredar pdf-nya dan itu sudah domain publik (alias halal diunduh dan dibaca).
Jika tak mau membagikan, misal tour buku untuk diri sendiri, itu juga tak mengapa. Hitung-hitung menambah pengetahuan kita, untuk menambah “perenungan” atau proses “tafakur” kita sebagai manusia, sebagai hamba.
Menarik. Semoga kita semua selalu diberi kekuatan untuk bisa melakukan hal-hal yang baik. []
Viki Adi N
