Ihwal Jodoh-Menjodohkan

Saya melihat ada orang yang semangat sekali dalam hal jodoh-menjodohkan. Semua memang tergantung niatnya untuk apa. Dan dia akan mendapatkan apa yang diniatkannya. Sampai sini, semuanya selesai. Tak perlu kita komentari.

Masalahnya begini. Saya pernah membaca tulisan, lebih pasnya curhatan, seseorang yang dulu kerap dimintai saran atau rekomendasi mengenai hal ini. Ia bukan orang yang semangat jodoh-menjodohkan, tetapi lebih tepatnya, orang yang sering dimintai atau ditanyai. Jadi, kerap orang meminta kepadanya untuk “mencarikan”.

Dia menuliskan bahwa akhirnya ia memutuskan untuk berhenti dan memohon maaf ketika ada “permintaan” seperti itu. Mengapa?

Ternyata, tak sedikit yang ia “pertemukan” itu, berakhir dengan sebuah konflik atau keretakan. Saya harap yang membaca tulisan ini mafhum. Apa ujungnya? Ya, kerap terseret, atau minimalnya—bukan hanya soal bahan penyalah-nyalahan—jadi bahan terakhir pergunjingan dalam keruwetan masalah tersebut.

Kembali lagi ke atas, ini memang soal niat baik. Namun, resiko yang ditanggung memang besar. Makanya, saya berpikir jika ada orang yang begitu menggebu-gebu “menjodoh-jodohkan”, apakah dia sudah tahu resikonya? Kita berharap begitu. Selain tahu resiko, mereka juga harus bisa, ini menurut saya pribadi, menjadi “penengah” jika diminta. Terlibat dalam “konflik” orang lain itu tak mudah. Bukan perkara gampang.

Ini bukan soal kebijaksanaan, bukan soal wisdom person, tetapi juga kecakapan layaknya para psikolog, yang mau dengan jernih melihat persoalan dan menyusurinya hingga ke akar. Tak bisa lepas dalil sana-sini, atau hanya menyempitkan pada makna, misalnya: kurangnya iman, kurangnya ilmu, dan seterusnya. Semacam justifikasi semaunya sendiri.

Semoga tulisan singkat ini bisa menjadi evaluasi dan pengingat bagi kita semua. []

 

Viki Adi Nugroho

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *