Buku Itu Barang Mewah

Hari ini tanggal merah, hari Jumat, menuju akhir pekan. Orang-orang yang menyukai buku biasanya akan menggulung-gulung layar, lalu mulai menatapnya, mengingat targetnya, dan mungkin saja akan membelinya. Sayangnya, itu mungkin. Keharusan hanya bagi mereka yang berkeluangan harta lebih banyak.

Layaknya barang mewah, nampaknya buku bisa disebut demikian. Ketika beberapa pekan lalu ramai jadi perbincangan harga komik terus naik merentang lima puluh ribu ke atas, ketika buku-buku fiksi mulai merentang ke atas seratus ribu, dan saat buku-buku nonfiksi sama juga merentang naiknya.

Memang, harga cetak buku mungkin masih tergolong tak mahal, tetapi instrumen yang melingkari munculnya sebuah buku jadi mahal. Penulis mendapat royalti sekitar 5-10% dari harga regulernya, sepertiga hingga seperlima mungkin biaya cetak, sepuluh hingga empat puluh didapatkan toko buku, nol koma lima hingga sebelas persen masuk ke pajak negara, dan ya, sisanya ke penerbit. Dari penerbit dibagi ke karyawan yang ada di dalamnya. Nyaris mustahil tinggal beberap persen saja dan ditambah terengah-engah karena buku bajakan. Masuk akal tingginya harga untuk memenuhi berapa lapis proses tersebut.

Barang mewah? Kita tak salah dengar. Dari sisi penghasilan, ambil saja gaji UMR di Jogja, penghasilan seseorang kisaran 70-100 ribu per hari. Bukankah itu setara dengan harga satu buku? Pengecualian jika kita mencari buku-buku bekas, yang harganya bisa saja lebih murah, sehingga dengan nominal tersebut bisa mendapatkan beberapa eksemplar.

Membeli satu buku sama dengan merelakan satu hari tidak gajian. Artinya, memperkecil satu orang yang hidup mandiri untuk bisa menikmati kebutuhan pokoknya, misalnya berupa makanan, belum lagi jika ia sudah berkeluarga. Sungguh, menambah beban pikiran. Tak hanya biaya makanan, tapi semuanya, biaya hidup.

Ya, itulah kemewahan. Jadi, buku kalian lebih berharga dari sekeping emas? Bisa jadi!

Investasi pikiran memang belum jadi prioritas di negara kita. Tak pernah ada berbusa-busa kampanye para calon pejabat berbicara soal program literasi, khususnya yang berhubungan dengan buku. Fakta ini telah disinggung dalam prekuel yang saya tulis di ebook yang bisa diunduh gratis di Google Play Book (Kertas Ajaib dan Perjamuan Kopi).

Beruntung sekali bagi kita yang masih menyisakan uang untuk membeli satu buku, entah berapa pun jangka waktunya. Bisa sebulan sekali, beberapa bulan sekali, atau setahun sekali? Jika tak diluangkan, kita tak akan pernah memilikinya. Itu memang prinsip dalam hal apa pun.

Jika tak diluangkan, kita tak akan pernah memilikinya. Saya sedang berpikir sejenak, mungkin iya mungkin tidak. Mungkin ini sudah siang, waktunya bekerja, dan jangan lupa sarapan. Ingat, buku itu barang mewah. Bukankah seseorang rela menabung sedikit demi sedikit untuk membeli sesuatu yang mereka anggap mewah? Ya, kenapa tidak? []

Viki Adi N

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *