Oleh: Azi Wansaka/azionesaka@gmail.com
Sebagai mahasiswa di Yogyakarta tentu tak asing lagi dengan yang namanya Malioboro, Keraton, Benteng Vredeburg dan Pantai Parangtritis.
Deretan nama tersebut adalah beberapa kawasan wisata di Yogyakarta yang kerap dikunjungi oleh turis baik lokal maupun mancanegara.
Kekayaan Yogyakarta sebagai sebuah kota dengan ragam peninggalan menarik membuat banyak orang untuk menetap atau melancong sejenak ke kota tersebut.
Warisan budaya nusantara yang tercermin dalam kesenian, bangunan, dan adat istiadat masyarakat boleh dikatakan sebagai salah satu yang terbaik di Indonesia.
Akan tetapi jarang sekali yang memperhatikan jika Yogyakarta tidak hanya sebatas kota budaya namun juga kota bersejarah.
Riwayat pembentukan Yogyakarta sebagai sebuah wilayah istimewa tak cukup ditilik jika hanya dari perjalanan 10-20 tahun saja.
Riwayat persinggungan Yogyakarta dengan bangsa asing seperti, China, Arab, Inggris, Belanda, hingga Jepang juga unik untuk diulas.
Sebut saja Kotabaru (Nieuwe Wijk) Yogyakarta, sebuah kawasan pemukiman yang terasing dari bangunan-bangunan di Yogyakarta.
Daya tariknya sebagai salah satu kota kolonial jarang dilirik, namun menyimpang potensi terselubung. Kokohnya bangunan bergaya Indis ini menjadi bukti bahwa kekuasaan kolonial pernah bercokol di sebuah Kerajaan Yogyakarta.
Hadirnya Kotabaru sebagai perkampungan Belanda di Yogyakarta, bagi sebagian orang dianggap wajar, terlebih jika dilihat dari perkembangan kekuasaaan kolonial di Nusantara yang cukup lama.
Tingginya angka imigran Eropa termasuk Belanda yang datang ke Nusantara membuat pemerintahan kolonial menerapkan adanya kebijakan pembangunan kawasan tempat tinggal khusus bagi orang Belanda.
Peraturan ini tertuang dalam Undang-Undang (Decentralisatiewet) tahun 1903 yang mengatur tentang pembangunan kota kolonial.
Kotabaru dibangun mulai tahun 1917 tepat setelah beberapa tahun dikeluarknnnya undang-undang desentralisasi.
Tingginya angka imigran Belanda yang datang ke Nusantara dipicu oleh dua hal, yaitu adanya pembukaan Terusan Suez dan Undang-Undang Agraria.
Pembukaan Terusan Suez membuat waktu perjalanan orang-orang Belanda yang biasanya memakan waktu tiga bulan menjadi lebih singkat, sedangkan Undang-Undang Agraria membuat tingginya minat orang Eropa untuk membuka lahan perkebunan di Hindia Belanda.
Kotabaru yang waktu itu dikenal sebagai kawasan pemukiman elit orang Belanda. Bangunan disana sampai saat ini identik dengan gaya bangunan khas Eropa.
Selayaknya sebuah kota kolonial di tanah Nusantara maka tak heran kebudayaan indis turut berkembang disana.Menurut Djoko Soekiman dalam bukunya yang berjudul “Kebudayaan Indis: Dari Zaman Kompeni sampai Revolusi” menjelaskan bahwa kebudayaan Indis terjadi ketika Kebudayaan Eropa dan Pribumi saling mempengaruhi. Pengaruh yang diberikan ini dapat berupa tujuh unsur universal kebudayaan.
Menurut catatan yang sama menyebut perkembangan kota kolonial di tanah Nusantara menjadi ciri utama dari munculnya kebudayaan Indis. Oleh karena itu, selain dikenal sebagai sebuah kota kolonial, kota-kota ini dikenal juga dengan kota indis.
Ciri khas yang melekat pada gaya bangunan dan corak hidup masyarakat Eropa waktu itu meninggalkan warisan sejarah dan budaya yang kaya hingga hari ini.
Belanda memang terkenal royal membangun Kotabaru dan dengan perencanaan yang matang. Hal ini bisa dilihat dari tata letak yang strategi perkampungan Kota Baru yang berada di dekat aliran Sungai Code membuat Kotabaru melimpah akan sumber air.
Menurut beberapa catatan menyebut letak yang demikian sangat cocok dan disenangi orang Eropa, biasanya orang Belanda memilihnya ketika akan membangun pemukiman.
Mereka percaya letaknya yang tidak terlalu dekat dengan Gunung Merapi dan tidak terlalu dekat juga dengan pantai, membuat rasa aman dan nyaman, serta jauh dari bencana alam.
Orang Belanda memang terkenal hebat dalam hal merencanakan tata kota. Pembangunan kota yang asri dengan arena olahraga, taman, jalanan yang penuh pepohonan dan rumah-rumah diatur memakai gaya Eropa menjadi ciri khas yang melekat dari Kotabaru.
Kawasan kotabaru dengan konsep Garden City ini dibangun menggunakan bantuan rancangan dari Thomas Karsten.
Beberapa proyek rancangan Thomas Karsten lainnya juga dapat ditemukan di daerah Batavia, Semarang, dan Stasiun Balapan Solo.
Bangunan-bangunan yang dirancang oleh Thomas Karsten ini sangat kental dengan arsitektur Belanda. Namun, hal tersebut agak berbeda dengan kawasan Kotabaru Yogyakarta, dimana arsitektur bangunannya cenderung menyerupai bangunan-bangunan di London, Inggris.Kotabaru kini mulai beralih fungsi menjadi kafe, restoran, pemukiman, hingga pertokoan. Warisannya sebagai kota kolonial tidak begitu terkenal dibandingkan kawasan wisata lainnya.
Namun, berbeda halnya dengan para pelancong Belanda. Keterikatan emosional antara mereka dan nenek moyangnya yang pernah tinggal di Yogyakarta memang tak bisa dielakkan, bahwa memang betul keterikatan sejarah dan emosional selalu beriringan.
Kini Kotabaru Yogyakarta sudah resmi menjadi salah satu kawasan cagar budaya yang patut diindungi. Pemanfaatannya sebagai kota pariwisata memang belum maksimal. Namun, seiring berjalannya waktu potensi terselubung ini akan menjadi salah satu obyek pariwisata yang menarik dan menjanjikan, seperti seorang Noni Belanda di Tanah Nusantara yang mesti bercokol di tanah yang asing.

