Saya akan sedikit berbagi ihwal mengenai lucunya dunia perbukuan. Awal saya dan kawan-kawan pendiri Gaza menjajakan buku―waktu itu kami belum punya penerbit sendiri, kami berfokus menyedialkan buku-buku (fikrah) keislaman. Saking getolnya mengenai buku-buku itu, ketika kami mempublikasikan dagangan berupa genre novel islami sampai ada yang nylethuk, “Jualan novel?”
Kira-kira begitu. Images kami memang sudah tersiar hanya segudang buku (fikrah) Islam. Memang kami mengakui itu benar adanya. Kawan-kawan yang lebih duluan menjajakan buku juga banyak yang mengambil genre demikian. Selain itu, kami juga punya kesamaan lain, yakni berawal dari mencintai buku atau karena pernah aktif di organisasi keislaman yang memang tak lepas dari apa yang dinamakan buku. Jadi, awal motif menjajakan buku bukanlah karena jualan atau bisnis, tetapi memang karena cinta pada buku.
Seiring berjalannya waktu, ternyata semua berubah. Buku-buku yang bersifat (fikrah) keislaman sudah tak semenarik dahulu kala. Setidaknya, itu pendapat saya pribadi berdasarkan pengalaman dalam dunia perbukuan. Kini, buku-buku yang bersifat (Islam) populer atau momentum yang laris manis diburu. Selain itu, ada satu lagi yang terus naik daun dan bisa dikatakan tak ada duanya soal perburuan dan kelarisannya. Apa itu? Buku-buku yang menggemaskan, yakni buku anak.
Saking larisnya buku anak, penerbit-penerbit besar yang dulunya memiliki trademark: buku-buku fikrah dan gerakan Islam, secara auto berangsur-angsur pindah haluan. Jelas! Menerbitkan buku anak maksudnya. Saya hanya geleng-geleng kepala menyaksikan semua peristiwa ini terjadi. Tak hanya para penerbit besar, para kawan sejawat atau yang lebih senior yang tadinya menjajakan buku (fikrah) islam juga mulai melirik dan berpindah prioritas, yakni buku anak.
Di tengah pandemi yang masih terus berlangsung dan sampai entah kapan berakhir―mungkin akan berakhir menjelang pemilu 2024―lalu semakin berkurangnya minat pada buku-buku keislaman yang bersifat fikrah dan gerakan, ditambah laris manisnya buku anak―melalui pasukan penjualan emak-emak, ya sudah: wassalam!
Tak hanya geleng-geleng, pada awalnya saya hanya mengangggap fenomena ini lazim karena pandemi. Tapi ketika pandemi mulai surut ternyata sama saja. Saya justru mendengar penerbit-penerbit besar lain yang tadinya belum terlalu jauh masuk di dunia buku anak justru akan segera bersiap menceburkan diri kesana. Luar biasa!
Memang saya meyakini ini tuntutan keadaan. Penerbit seideologis apapun tetap membutuhkan uang untuk perputaran dan keberjalanan sistemnya. Dari mulai gaji karyawan hingga bagaimana stok buku bisa terjaga tanpa ada kendala apapun, dan lain sebagainya. Mungkin hanya Gaza yang membiarkan bukunya habis tak tersisa sementara orang bertanya, “Apa buku masih ada?” Dengan ringan kami menjawab, “Akan segera kami cetak ulang.” Walaupun kami sendiri tidak tahu kapan akan dicetak ulangnya.
Kalau dipikir-pikir, jika semua penerbit (Islam) besar akan menceburkan diri ke buku anak, bagaimana nasib buku-buku (fikrah) Islam ke depannya?
Jawabannya, “Yo ndak tau, jangan tanya saya!”
Terakhir, apa kalian tertarik jadi penulis, penjual, ilustrator, atau apapun yang berkaitan dengan buku anak? Sepertinya menarik! []
Viki Adi N
