Mengutip dari kisah Hasan Al-Banna yang mana ia sangat memperhatikan fenomena penyimpangan sosial yang sangat berbahaya pada abad ke-20 di Mesir yang masih bisa kita jumpai hingga hari ini. Seruan pun digaungkan kepada bangsa- bangsa Muslim di berbagai Negara untuk bersatu dan saling membantu demi tercapainya kemerdekaan dan kebangkitan Islam.
Sekarang kita banyak melihat konspirasi zionis, komunis, dan salibis. Bahkan sudah banyak strategi salibisme untuk menghancurkan umat. Para pemuka agama pun tak tinggal diam. Berbagai cara untuk menyatukan gerakan juga ditempuh. Kita pun menjadi saksi atas perjuangan mereka, yakni jatuh bangunnya mereka dalam memperjuangkannya. Akan tetapi kita pun juga menjadi saksi atas ketangguhan mereka saat di hujani berbagai pertanyaan yang mampu menyudutkan mereka. Bukan nama baik mereka yang dipertaruhkan, akan tetapi kemerdekaan Islam lah yang di remehkan.
Kawan, kita adalah generasi muda yang tidak sepatutnya memanglingkan perhatian atas hal tersebut dengan asyik kepada dunia kita sendiri. Namun kita pun banyak melihat berbagai hal, peristiwa, termasuk seorang tokoh agama (sebut saja: oknum) yang lalai pada tugasnya dan lebih memerhatikan kehidupan pribadinya. Apa yang seharusnya menjadi sebuah misi utama pun berbelok arah pada kehidupan personalnya. Jikalau tidak ditegur maka pastilah tak ada yang berubah, sedangkan krisis agama pun masih banyak di jumpai, maka sudah sepatutnya kita memperkuat pondasi awalnya, hingga terjangan badai tak akan mampu merobohkan misinya dan menjadikannya sebagai sebuh tugas utama dan meletakkannya di atas kepentian pribadi. []
Wahyu Sari
