“Kota Konstantinopel akan jatuh ke tangan Islam. Pemimpin yang menaklukkannya adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukannya adalah sebaik-baik pasukan.” (HR. Ahmad)
Masa Rasulullah SAW hijrah ke Madinah, terjadi Perang Ahzab. Umat islam melawan 10.000 pasukan koaliasi orang kafir Quraisy, Yahudi, dan munafiq. Dalam perang tersebut umat islam memiliki strategi membuat parit. Umat islam dibantu oleh orang-orang Yahudi yang terikat perjanjian kala itu.
Di tengah letihnya diri menggali parit, semua beristirahat. Kaum muslimin bertanya pada Rasulullah SAW, “Wahai Rasulullah, manakan yang akan kita taklukkan terlebih dahulu? Konstantinopel atau Roma?” Mendengar pertanyaan itu orang-orang Yahudi menertawakannya. Di tengah gentingnya kondisi karena Madinah akan diserang musuh, mereka masih bermimpi hal yang tak mungkin. Hingga orang Yahudi menganggap Rasulullah SAW dan umat islam itu gila.
Cita-cita dan keyakinan yang mulia untuk penaklukan Konstantinopel diteruskan dari masa ke masa. Sampai pada seorang yang disebut sebaik-baik pemimpin yaitu Muhammad Al-Fatih.
Kemenangan Muhammad Al-Fatih tidak terlepas dari pada proses pendidikan yang diberikan orang tua beliau. Orang tua beliau memilihkan guru terbaik. Hal pertama yang dipelajari adalah adab. Dengan adab yang baik akan memudahkan dalam menyerap segala ilmu. Dan menjadikan Muhammad Al-Fatih memiliki wawasan luas, kepribadian hebat, dan mental sebagi seorang penakluk. Bahkan beliau paham dan lihai berorganisai.
Muhammad Al-Fatih sadar atas cita-cita besarnya, sehingga beliau melakukan usaha yang lebih untuk mendekat pada Sang Pemberi Kemenangan. Beliau dari baligh sampai wafat tidak pernah meninggalkan sholat rawatib dan tahajjud.
Muhammad Al-Fatih juga memiliki kesabaran tingkat tinggi dan sikap percaya diri yang luar biasa. Dalam penyerangan menaklukkan Konstantinopel, beliau tak henti-hentinya berpikir bagaimana menembus dinding benteng. Sampai akhirnya menempuh strategi di luar logika berpikir manusia yaitu memindahkan kapal-kapal melewati bukit-bukit.
Begitulah, keteladanan dari Muhammad Al-Fatih. Ketika cita-cita besar ditanamkan dan diikuti pembentukan mental yang hebat, maka tercapailah cita-cita.
Eni Astuti. Sukoharjo, 1 September 2021
