Hati Berbicara Tentang Kehidupan

Dear, Tuhan Sang Maha Pemilik Hati

Ini bukan sekedar cerita biasa. Ini hanyalah catatan kecil yang sering kau jumpai ketika seorang gadis mulai membuka lembaran mereka dengan kisah yang beraneka ragam. Ada saatnya kekecewaan hadir di tengah hiruk- pikuk kebahagiaan. Ada juga saatnya rasa sakit hati itu hadir di saat orang lain tidak mampu menjaga lisan mereka. Kalau kita rangkai semuanya pasti tidak akan pernah ada habisnya. Inilah hati, yang diciptakan untuk bertaruh dengan titik kekuatan atau… titik kelemahan hingga kita tak berdaya untuk mengendalikannya.

Hai, Sahabat. Aku ingin bercerita sedikit tentang jejak manusia yang tidak luput dengan dosa sejauh tuhan menguji ciptaan-Nya tentang hati yang selalu terombang-ambing di setiap detik, menit, bahkan jam sekalipun. Hidup ini memang rumit. Penuh teka-teki. Jangankan hati, kita saja selalu mencela orang di sekeliling hingga lupa diri dengan apa yang kamu lakukan. Percayalah gelombang elektromagnetik (red;distorsi) inilah membuat pondasi ketakwaan kita kepada tuhan menjadi pudar. Mungkin saja tidak semua manusia seperti apa yang kita pikirkan. Ada kebaikan juga ada keburukan. Kalau lisan tidak bisa kita jaga, lalu bagaimana dengan hati ? tanyakan pada diri ini. Jangan-jangan dosa kita sudah setinggi gunung Uhud atau…puncak gunung Everest.

Di kala hati ini terus berguncang tiba-tiba pandangan ini tertuju pada mushaf kecil nan mungil yang tersusun rapih di rak belajarku. Aku mulai membuka surat Ar-Ra’ad ayat 28 dan isinya seperti ini.

“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.”

Entah kenapa aku mendapat jawaban dengan semua masalah hatiku yang terus berlarut-larut, tanpa ada solusi yang membuat tenang untuk sesaat. Sepertinya aku melupakan tuhanku selama ini. hanya berdoa padanya saat aku membutuhkannya saja. Astaghfirullah… kalau saja waktu bisa berputar kembali, aku hanya ingin belajar dan belajar bagaimana cara mengelola hati dan lisan sebagaimana mestinya. Hidup tidak ada yang sempurna. Kesalahan selalu ada dalam hidup kita. Jadilah manusia yang selalu dekat dengan sang pemilik hati.

Fadhi QP

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *