Antrian pertalite yang mengular sampai ke pinggir jalan sudah jadi pemandangan umum, apalagi kalau kita melihatnya khusus di waktu-waktu tertentu. Bikin kepala pening. Itu yang melihat, apalagi yang mengantri.
Antrian ini tak lepas, salah satunya, dari kondisi ekonomi warga yang lebih memilih harga murah, yakni pertalite, ketimbang pertamax yang lebih mahal. “In this economy” gitu loh, menghemat itu adalah pilihan paling bijak. Harga-harga barang atau produk yang kita gunakan sehari-hari semua naik. Betul, terasa sekali kenaikannya. Bagi orang have, tentu saja itu pengecualian.
Apa ini berpengaruh ke buku? Pasti. Buku bukanlah kebutuhan pokok di tempat kita. Pengecualian hanya untuk individu-individu tertentu, yang biasanya dia have atau memang meluangkan. Meluangkan dana atau anggaran pun pasti akan dipengaruhi oleh banyak kebutuhan, apalagi jika semua harga sedang naik seperti saat ini.
Kita semua sudah mafhum bahwa harga buku dan gaji pokok di Indonesia memang 11-12, maksudnya harga segitu gaji segitu, sehingga orang akan berpikir dalam-dalam sebelum membeli buku. Saya juga orang yang begini (untuk sekarang). Kalau mau beli buku, saya akan berpikir berkali-kali. Bahkan, untuk kondisi saat ini, saya akan skip wishlist buku yang untuk kondisi jangka pendek belum membawa kebermanfaatan praktis bagi diri pribadi. Berbeda dengan dulu, ketika suka ya beli. Tanpa pikir panjang.
Efek ini akhirnya berpengaruh pada penerbit, salah satu entitas dari ekosistem perbukuan. Menjual susah? Betul. Banyak sekali faktor yang melatarbelakangi. Namun, semua faktor itu bisa saja terhempas dengan satu mantra: influencer. Itu klu besar di era sekarang. Kalau suatu penerbit mendapatkan penulis yang influencer. Fix, sesaat dia akan tertolong. Influencer yang saya maksud dalam arti luas, yang berarti dia punya pengaruh, daya jangkaunya luas, dan ada penggemarnya. Beda sekali dengan ekosistem zaman dahulu. Ingat, ini sesaat, tapi memang bermanfaat.
Dan, ya saya nulis ke mana-mana.
Ini salah satu dari sekian banyak rentetan hasil dari daya beli yang sedang rendah. Kalau dipikir-pikir, tidak di buku juga. Bisa jadi di banyak hal, di produk apa pun. Anggap saja ini pikiran (baca: curhatan) melihat kondisi daya beli di perbukuan saat ini. Dari sudut pandang orang yang punya penerbit dan toko buku online.
Pada akhirnya, dan ini memang “hukum” di dunia pasar, di dunia jual beli, apa yang menjadi keinginan pasar, itulah yang diburu. Jadi, “industri” buku sebenarnya tak sebaik seperti yang kita lihat. Pasar tetap menjadi prioritas ujung-ujungnya. Yang laku yang dibuat, yang laku yang diterbitkan. Belum lagi bicara detail-detail kecil di dalamnya, yang akan menambah aneka masalah termasuk kepentingan. “Islam ala Prabowo” itu hanya satu dari sekian kecil contoh. Ada kepentingan proyek (uang), ada kepentingan politik, dan seterusnya.
Kalau semuanya sudah tidak waras, memang tinggal diri kita sendiri yang bisa membuat rem, mengarahkan kembali kompas, menyadarkan pikiran, dan sedikit demi sedikit berusaha tetap membuat jalan yang menerangi. Termasuk di “industri” buku ini. Sebenarnya, prekuel “Kertas Ajaib” yang pernah saya tulis itu adalah serangkaian dari keinginan untuk mengurai masalah ini dalam bentuk sajian fiksi (novel). Sayang sekali, pengerjaannya harus terhenti karena kesibukan memikirkan dan bekerja agar penerbit dan toko buku milik sendiri bisa tetap hidup.
Jangan lupa baca buku, kawan. []
Viki Adi N
