Patriarki
“Itu kan, kerjaan cewek?”
Saya masih ingat betul ketika salah satu karyawan (laki-laki) di sebuah perusahaan mengatakan demikian atas sebuah tanggapan ketika ia diminta untuk membantu bersih-bersih oleh karyawan (perempuan).
Di dalam Islam, hubungan semacam ini sifatnya tolong-menolong. Di dalam konteks keluarga, dalam konteks pekerjaan (rumah tangga) juga begitu. Itulah mengapa konsep feminisme yang disuguhkan Barat sebenarnya sudah gugur di sini. Namun, masih tingginya budaya patriarki di Jawa, serta kebodohan yang terlalu nampak di manusia kita, begitulah kira-kira jadinya.
Ini hanya contoh kecil, belum lagi jika sudah masuk ke tatanan yang lebih luas lagi.
Kewarasan
Pertama, nampak sekali dunia kita hari ini adalah dunia cemas. Semua menampilkan kecemasan dalam beragam sudut. Kita terlalu mencemaskan hari esok, sampai lupa jika hari ini masih bisa minum air putih atau menghangatkan teh. Media sosial telah tumbuh sedemikian rupa hingga turut membantu mengkampanyekan hal tersebut.
Kedua, untuk menuju waras, selain mengubah mindset, sebagai manusia kita memang harus berdaya (wealth). Berdaya bukan berarti kaya dalam arti memiliki banyak aset atau harta. Berdaya adalah tentang kita mau berjuang, tentang kita mau berusaha. Rasa-rasanya, anak muda zaman sekarang lebih suka duduk tenang, merebahkan diri, pencet-pencet, ketimbang bergerak memeras keringat. Bagaimana jika kita tidak mempunyai kemampuan (skill)? Ibu guru selalu mengatakan: “Belajar, Nak!” Kita tidak boleh malu soal belajar.
Rasional
Apakah masyarakat kita rasional? Sepertinya belum. Soal kewalian atau karomah misalnya. Tentu saja, sebagai orang Muslim kita meyakini hal tersebut. Akan tetapi, viralnya seorang yang dianggap “wali” dengan ceramahnya menggunakan Bahasa “Suryani” telah memberi satu indikator bahwa masih ada sebagian masyarakat kita yang bukan lagi rasional, akal pun tak punya.
Lomba Senyum
Apakah ini yang dinamakan the real akademisi yang sudah tak punya malu? Sekelas akademisi dan lembaga pendidikan, yang tugasnya seharusnya “mencerahkan” dan “mencerdaskan”, justru malah membuat lomba senyum mirip mas wakil presiden yang baru.
Kalian ingin ikut?
~ Viki Adi N
