29 Mei Lalu
Al-Fatih menjadi nama paling masyhur dalam sejarah pada tanggal ini, karena menaklukkan Konstantinopel (kini, Istanbul, Turkiye). Sementara di waktu yang sama, tetapi berbeda tahun, Palestina terus saja dibombardir.
Rafah
Sepertinya semua orang Muslim akan geram terhadap Mesir mengenai soal ini. Sebenarnya, kita bisa flashback, mengingat kembali sebelum Zionis memperkuat akarnya di Palestina. Kita akan melihat betapa pemerintahan Mesir di masa lalu, justru terlibat dalam perang Arab untuk membela Palestina dan membumihanguskan Zionis yang didukung Barat (terutama Inggris) adalah karena urat malu desakan seorang guru sekolah bernama Hasan al-Banna serta organisasinya (Ikhwanul Muslimin).
Mesir masih punya malu, sebagai negara Arab akhirnya ia mau turut dalam perang Arab yang kemudian melibatkan negara-negara Arab lainnya. Karena hanya sekadar penghapus malu, pasukan Ikhwan yang berjuang di sana dipulangkan dan ditangkap di Mesir.
Kini?
Mesir bahkan tak punya urat malu lagi, walau hanya sekadar formal belaka sebagaimana yang terjadi di masa lalu. Tewasnya tentara mereka karena serangan Israel tak membuat mereka geram dan setidaknya membela.
Hasil kudeta Sang Presiden yang didukung AS, rupa-rupanya berhasil. Sebuah kalkulasi tepat mengenai Rafah, Palestina, Mesir, IM (Mursi), dan Zionis.
Arabisme
Satu hal yang kini hilang di dunia Muslim adalah arabisme. Meski ini agak fanatik “kedaerahan”, tetapi inilah fakta yang menunjang kekuatan, mau tak mau, dan memang faktanya begitu. Arabisme di masa lalu telah menjadi “trendsetter” di dunia Muslim, bukan hanya sebagai fanatik kesukuan. Arabisme telah melintasi batas wilayah.
Sayangnya, arabisme yang hilang—jika memang telah hilang—kini telah mengucilkan Palestina dari bangsa Arab. Jika arabisme dikorbarkan lagi, tak ada salahnya akan ada perang Arab jilid berikutnya. Negara-negara Arab kini adalah negara kaya. Sekadar menyokong agenda tersebut, sungguh mudah dan amat bisa.
Arabisme telah berganti menjadi acara kontes pakaian kecantikan? Mungkin begitu.
Kemanusiaan dan Protes
Memang susah untuk berharap pada arabisme, susah untuk bisa diandalkan lagi, gerakan protes dan boikot akhirnya menjadi gerakan terus menerus di dunia saat ini. Tak hanya di negeri-negeri yang berpenduduk Muslim saja, aksi protes juga terjadi di negeri-negeri Eropa. Sebab, ini soal kemanusiaan. Efek gerakan kecil ini memang seolah tak terlihat dan bisa disebut efek jangka panjang, tetapi yakinlah jika ini dilakukan terus menerus, akan ada efek yang ditimbulkan. Dari mulai support pendanaan, hingga soal edukasi (persepsi).
PBB pada akhirnya menjadi lembaga formal tersullit untuk bisa memuluskan jalan Palestina merdeka. Selama masih ada AS sebagai pemegang hak veto, selama itu pula Palestina tidak akan bisa merdeka dan bebas (secara legal dan formal). Jika begitu, jawaban manusia yang berakal akan tahu apa yang harus dilakukan.
***
“Kepada rakyat di dunia Arab, apa yang kalian tunggu?… Jika kalian membiarkan Israel melakukan apa yang mereka mau… Apa kalian tak berpikir? Kalian semua harus bersatu, membela daerahmu, budayamu, hidupmu,…” ~ Dr. Aleida Guevara March (Putri Che Guevara)
~ Viki Adi N
