Apakah dunia ini memang tidak adil? Apakah kita diciptakan di dunia memang untuk menjadi orang yang kalah dan gagal? Jika mereka selaku anak-anak cerdas saja menyerah, bagaimana dengan saya yang hanya remukan rengginang di dalam toples yang tak pernah dilirik? Apakah saya juga harus menyerah?
Tunggu dulu! Tarik nafas dalam-dalam, lalu keluarkan. Tenangkan sejenak pikiran kita. Pertanyaan-pertanyaan ini kerap muncul ketika manusia sedang menghadapi ujian. Tanpa disadari, pertanyaan tadi adalah murni persepsi kita yang sedang terbawa emosi (negatif).
Selama kita bisa mengendalikan emosi dan persepsi—yang asalnya adalah pikiran—, selama itu juga kita masih bisa bertindak waras. Sayangnya, kendali inilah yang kerap hilang ketika kita merasa sudah tak bisa apa-apa, ingin mengangkat kedua tangan, dan berkata, “Saya menyerah!”
Tulisan-tulisan di buku ini mencoba mengurai benang kusut dan bola bundet kesulitan hidup yang seolah-olah selalu saja mampir kepada kita. Dengan harapan, semua yang membaca buku ini bisa kembali menapaki jalan ceria dan menikmati rasa tenang. Kata “menyerah” barangkali sering mampir, tetapi cukup sebentar saja. Kita tak boleh memelihara atau memendamnya.



Ulasan
Belum ada ulasan.