Kemerdekaan dan Para Penerusnya

Pada tanggal 17 Agustus 1945, Jumat legi, 9 Ramadhan 1364 H. Atas karunia Allah SWT Indonesia memproklamasikan kemerdekannya, hal yang sangat dinantikan selama 350 tahun perjuangan bangsa ini untuk dapat berdaulat. Kemerdekaan bangsa ini tidak didapat dengan gratis melainkan dengan banyak tetesan darah, pengorbanan jiwa dan harta.

Pada hari ini mungkin kata merdeka akan pantas dihadapkan dengan diri sendiri, “Apakah pribadi telah merdeka?” Merdeka dari hawa nafsu dan kemungkaran maksudnya. Tentu saja itu kembali kepada masing-masing pribadi. Namun yang harus selalu diingat bahwa kemerdekaan jiwa merupakan salah satu bagian dari kemerdekaan bangsa itu sendiri.

Kini, sering sekali kita merasa bahwa ujian yang datang pada pribadi kita terasa yang paling berat. Namun sebenarnya tidak sampai kepada mengangkat senjata berjihad melawan penjajah. Hal seperti itu seharusnya bisa menjadi renungan pada diri pribadi kita bahwa ujian yang dihadapan saat ini tidaklah seberapa dibanding dengan perjuangan para pendahulu.

Rasulullah Saw dan para sahabat sebagai pemimpin pernah dihadapkan dengan musuh yang begitu dahsyat pada perang badar. Perang yang menentukan hidup matinya peradaban Islam. Namun hal yang masih sangat teringat ketika Rasulullah Saw mengakatan bahwa ini hanya sebagian kecil dari perang, perang yang lebih berat adalah menghadapi diri sendiri. Sebuah perkataan yang menjadikan perenungan yang begitu mendalam apakah diri pribadi kita benar-benar telah merdeka? Merdeka dari rasa malas, merdeka dari kebodohan, merdeka dari jeratan hawa nafsu. Sungguh kata merdeka menjadi sangat luas dan dalam maknanya ketika dihadapkan pada jiwa manusia.
Lantas masihkah harus terus kalah dengan segala bentuk penjajahan jiwa?

Mengalahkan penjajah sesungguhnya adalah kewajiban setiap insan yang berada pada suatu wilayah yang terjajah. Nusantara sendiri pada waktu itu dengan mayoritas muslimnya melakukan perlawanan yang dipimpin oleh para ulama. Begitulah Islam menjawab imperialisme, dengan fikih jihadnya mereka melakukan perlawanan. Perlawanan yang membawa pada kemerdekaan Indonesia.

Lantas setelah kemerdekaan apakah perjuangan itu telah usai? Hingga setelah proklamasipun bangsa Indonesia masih dihadapkan pada sebuah rintangan yang amat berat bahkan tidak sedikit benturan yang terjadi sesama bangsa. Hal ini seharusnya bisa menjadi sebuah pelajaran bagi masa kini yang sedang dihadapkan berbagai permasalahan bangsa. Bahwa cita-cita bangsa tidak hanya berhenti pada meraih kata merdeka namun yang selanjutnya adalah bagaimana mempersatukan manusia yang berada di dalamnya menjadi kekuatan yang mengungguli zamannya.

Sebagai sebuah bangsa yang merdeka sudah selayaknya kita bersyukur atas karunia Allah dengan mengisi kemerdekaan itu dengan hal-hal yang membawa pada perubahan bangsa kearah yang lebih baik. Dan seperti kata bung Karno “Hanya Bangsa yang tahu menghargai pahlawan-pahlawannya, dapat menjadi Bangsa yang besar. Karena itu, hargailah pahlawan-pahlawan kita!”

Akhmad Suhrowardi

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *