Sosial Media: Pisau Baru Umat Manusia Masa Kini

Sosial media : pisau baru umat manusia masa kini

 

Zaman sekarang generasi orang tua hingga balita pun tidak bisa lepas dengan nama-Nya gadget. dalam kamus besar bahasa Indonesia kita lebih mengenal dengan istilah gawai. Sebuah alat telekomunikasi yang berfungsi untuk terhubung satu sama lain dalam jarak dekat maupun jauh hingga membentang dari berbagai belahan dunia.

Sosial media adalah satu contoh yang mempunyai dampak besar bagi generasi milenial saat ini. mereka yang menjadi momok perbicangan para khalayak umum sampai para pakar komunikasi publik menganggap ini adanya pisau baru yang lebih tajam dibanding dapur emak-emak saat memasak di dapur. Kita bisa mengambil hikmah dari kasus bima, sang influencer, yang memposting permasalahan infrastruktur akses jalan di wilayah lampung yang sangat memprihatinkan. Belum adanya perhatian dari pihak pemerintah daerah dan atau pemerintah pusat menjadi sasaran playing victim atau objek yang merasa harus disalahkan tanpa ada bukti otentik kesalahannya. Pertarungan berita yang viral di sosial media itu bagaikan aib artis yang diumbar-umbar sama akun lambeturah. Gak ada ujungnya.

 

dalam hal ini bisa jadi orang yang membaca atau mendengar berita itu muncul struktur logical fallasy atau penyimpangan dengan apa yang dipikirkan pada penglihatan dan pendengarannya di kepalanya hingga ada gejolak untuk memproduksi atau membagikannya ke orang lain yang lebih banyak demi berita yang baru didapatkannya agar lebih dramatis layaknya sinetron tersanjung atau cinta fitri. Begitulah dilematika penggunaan sosial media. Keras tanpa mengenal ampun.

Peran orangtua dan orang di sekitar kita sangat penting untuk mengenal bagaimana menanamkan etika santun dalam bersosial media sebelum orang lain membacanya. Tidak ada yang tahu jalan pikiran manusia dengan kondisi yang telah terjadi dan membantu untuk terjun ke lapangan menyuarakan dalam bentuk uluran tangan ataupun donasi yang bisa membantu wilayah yang jauh dari citra kelayakan publik. Inilah saatnya kita memahami bahwa pistol masih kalah dengan postingan masyarakat yang menyebar dalam hitungan sepersekian detik.

 

Fadhi QP

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *