Melihat gaji para eselon atau pejabat negara yang rangkap-rangkap itu, siapa yang tak iri? Siapa yang tak ingin? Semenjak kasus anak Rafael terungkap, ternyata gaya hidup, gaji, dan kepameran sebagian pejabat negara kita terbongkar dan viral. Reformasi birokrasi akhirnya selalu menjadi jargon di akhir kasus. Jalan atau tidaknya, itu sudah seperti janji para politisi ketika meminta suara. Halus terdengar, indah, berakhir entah di mana.
Apakah hidup di atas penderitaan rakyat yang membanting tulang untuk membayar pajak bisa membuat mereka tenang? Tapi begitulah fakta di negeri kita ini. Aji mumpung. Hidup hanya sekali, mungkin begitu pikirnya. Sudah dari zaman antah brantah, tingkah polah pejabat memang ada saja yang seperti itu.
Terlepas dari kegaduhan kasus-kasus tersebut, sebenarnya saya sedang teringat dengan zaman perkuliahan. Saya teringat bagaimana dulu ketika memilih jurusan atau program studi adalah diniati untuk mencari pekerjaan dan gaji yang layak (hehe, adakah yang sama?). Tetapi setelah dipikir-pikir sampai saat ini, tetap saja belum bisa mengalahkan mereka yang “sekawan” dengan Rafael. Sampai-sampai terkadang berkelakar, “Apa ada gaji yang ratusan juta per bulan?” Faktanya kan memang ada, lah itu para pejabatnya.
Pikiran soal besaran gaji akhirnya membawa saya pada ingatan-ingatan bagaimana belajar di program studi Pendidikan Seni Rupa. Di sana selain belajar ilmu pendidikan beserta teknis-teknisnya, kami dibekali dengan ilmu praktis, terapan, atau fungsional. Ilmu terakhir, yang disebut sebagai apllied art ini ternyata setelah disadari, memiliki penunjang dalam dunia pekerjaan atau usaha yang begitu dahsyat. Itu justru saya sadari setelah lama lulus dan tak menggeluti dunia seni rupa. Sampai saat ini, praktis hanya menggambar dan mendesain yang masih ditekuni.
Kalau dipikir-pikir, sebenarnya saya bukan orang yang pakar di dunia seni. Saya mengakuinya. Dan itu adalah kesalahan saya selama belajar yang tak pernah menekuninya. Meski begitu, saya sangat bersyukur karena menjelang akhir studi sudah memiliki “jalur” apa yang akan ditekuni meski harus memulainya dari nol. Apa itu? Menulis. Jadi, menulis itu adalah jalan yang saya temukan di akhir. Lalu, buat apa waktu lima-enam tahun dihabiskan untuk studi dan pada akhirnya memilih jalur lain? Nah, itulah pembelajaran pertamanya. Maka ketika bertemu adik-adik mahasiswa, saya selalu mengatakan kepada mereka agar segera memilih “jalur” apa yang mau ditekuni dan diambil, apakah sesuai jalur prodinya atau malah berbeda. Meminjam istilah Imam al-Ghazali dalam bab Ilmu pada kitab Ihya Ulumuddin, yakni bagaimana kita memilih “ilmu fardhu kifayah”, yang pada nantinya bisa naik pada derajat “fardhu ‘ain”.
Meski seolah apa yang saya tulis sifatnya pragmatis, tapi pada faktanya pengambilan posisi visi individu semacam ini bisa digunakan dalam ranah ideologis, yakni bagaimana kita bisa mengambil peran kebermanfaatan (untuk umat) dari apa yang menjadi kepakaran dan yang akan kita tekuni. Itulah yang biasanya disebut sebagai “fardhu kifayah” dalam kitab Sang Hujjatul Islam.
Jadi kawan-kawan sekalian, praktis dalam dunia kepenulisan, tentu saja umur belajar saya tak jauh beda dengan umur Gaza Library. Artinya, bisa dibilang saya baru lulus strata satu di tahun ini jika acuannya adalah belajar “jalur” baru dari nol tadi. Bisa dikatakan, saya telah menghabiskan waktu 10 tahun lebih bukan? Setengahnya seni, setengahnya menulis. Mungkin kita sekarang bisa berpikir bersama-sama, bukankah jika dari awal fokus satu maka bagaimana jadinya setelah 10 tahun? Nah, itu point utamanya. Itu point pembelajarannya. Tetapi begitulah kehidupan, isinya memang tempat untuk terus tumbuh dan belajar. Tak ada yang namanya terlambat. Untunglah kita hidup sebagai seorang Muslim yang ajarannya telah mewajibkan umatnya menuntut ilmu sampai liang lahat bahkan ke negeri yang nun jauh sekalipun.
Kembali ke applied art tadi, saya akan ceritakan sedikit apa yang dipelajari. Ada mendesaian interior, menyusun karya grafis (cukil), membuat patung (bahasa kerennya: action figure, yang wibu pasti tahu), menggambar wajah/model, fotografi, sablon manual (kaos), kerajinan, dan masih banyak lainnya. Saya ambil contoh beberapa saja. Misalnya membuat action figure dari resin.
Apakah kawan-kawan tahu kalau harga action figure resin itu lumayan bisa menguras saku? Bahkan, bisa dikatakan kalau itu adalah mainannya para bapak atau penggemar anime, yang jelas-jelas bukan anak-anak pangsa pasarnya. Silakan cari saja di marketplace, berapa harga action figure resin Final Fantasy VII? Berapa harga action figure resin One Piece, Naruto, Fate Unlimited, Moba, Gintama, Sword Art, dan semacamnya? Jika dari brand/studio lokal Indonesia atau studio Japan, harganya tak main-main (kecuali versi China atau non orinya).
Kita sebut contoh lain lagi, misalnya sablon manual (kaos). Di tengah maraknya sablon menggunakan printer (misal ada DTF, dsj), ternyata banyak orang mengakui kalau sablon manual tetap memiliki kualitas kekuatan tersendiri. Alhasil, masih banyak penyablon kaos manual yang hingga kini bertahan dengan pangsa pasarnya sendiri. Mereka bisa menghimpun banyak karyawan dalam proses pengerjaannya.
Pelajaran berikutnya, adalah—ini bukan cuma tentang nominal, tapi—tentang bagaimana kita mendalami suatu ilmu dengan serius setelah sebelumnya memastikan untuk memilih “jalur”. Mereka yang mendalami dunia perwibuan melalui action figure selama 10 tahun, pasti telah tahu ceruknya bagaimana. Hal tersebut berlaku juga dalam dunia apapun. Kita yang menuntut ilmu, menjadi akademisi misalnya, mendalami suatu keilmuan juga dibutuhkan waktu hingga belasan tahun (jika acuannya sampai strata tiga misalnya). Tak ada yang instan, semua butuh proses (termasuk masak mie yang disebut mie instan).
Dua pelajaran di atas, mungkin bisa berguna untuk mereka yang tengah bimbang mau melangkah ke mana. Ya, walau sebenarnya pernah dan mungkin telah berulang kali saya tuliskan soal ini. Tentu saja itu adalah sebagai bagian dari berbagi pengalaman dan pembelajaran, bukan sebagai sesuatu yang wajib untuk jadi acuan. []
Viki Adi N
