Saya coba tuliskan tentang ini gara-gara teringat dengan salah seorang mahasiswa yang habis “ditipu” dan “diperbudak” oleh seorang pemilik web. Kejadian ini saya baca di grup Facebook Freelancer Indonesia. Dia rela dibayar dengan murah demi kerjaan menulis konten di web bejibun banyaknya. Ia rela sampai banyak memparafrase setelah ide-idenya habis dikuras untuk mengisi kolom-kolom di web mereka. Cerita berakhir dengan tidak dibayar. Kisah itu viral di sana. Sayangnya, mahasiswa ini masih baik. Ia tidak mempublikasikan nama webnya. Kalo iya, kan lebih seru gitu loh.
Tapi saya tak akan berbicara soal kasus itu. Saya teringat soal parafrase dan memparafrase. Tapi lagi-lagi saya juga tak sedang ingin membahas itu. Gara-gara kata parafrase, saya teringat dengan seorang sahabat yang pernah me-layout naskah-naskah dosen kampus yang akan diterbitkan melalui penerbit kampus. Tentu saja buku itu pasti akan digunakan oleh dosen untuk bacaan mahasiswanya. Kalian pasti dapat jatah buku mata kuliah kan ketika jadi mahasiswa baru?
Nah, jadi apa yang menarik? Adalah naskah-naskah tersebut tergolong “semaunya”. Itu bahasa saya. Maksudnya, naskah tersebut ditulis dengan meng-copy-paste sana-sini. Kenapa bisa tahu? Kata sahabat saya, “Itu sangat kelihatan ketika di layout.” Ya! Betul sekali. Kalau copast tanpa diedit atau diparafrase formatnya di Microsoft Word, itu benar-benar kelihatan. Saya yakin kalian paham dengan apa yang sedang dibahas ini.
Karena melihat langsung bagaimana prosesnya, maka saya jadi sedikit tahu tentang dunia perbukuan kampus. Tapi saya yakin tak semua akademisi akan seperti itu. Masih banyak juga karya akademisi yang berkualitas terbit di penerbitan kampus. Kala itu saya belum bisa me-layout buku, tetapi karena melihat langsung, ya bagaimana yah. Percaya tak percaya, fakta ada di depan mata.
Kalau gurunya seperti ini, bagaimana muridnya? Bagaimana mahasiswanya? Pertanyaan-pertanyaan tersebut muncul di kepala ketika tahu hal semacam itu. Apakah saya akan mewajarkan jika plagiasi mahasiswa itu jadi biasa?
Entahlah. Saya tak mau ambil pusing. Paling penting dari semua ini adalah jangan sampai kita meniru kelakuan oknum-oknum yang kurang baik itu, apalagi jika kita saat ini sedang belajar menulis. Belajar menulis akan lebih baik jika kita mengalirkan ide kita sendiri terlebih dahulu, yakni ide yang ada di kepala, ide yang terlintas, ide yang tiba-tiba datang, ide dari perenungan, dan dari mana saja yang didapat. Alirkan saja dulu. Jangan pikirkan soal panjang pendek atau kedalamannya. Itu soal berikutnya.
Belajar menulis dengan “alami” akan lebih bisa membiasakan otak dan hati kita untuk mengeluarkan isinya. Sekali lagi, jangan tiru kelakuan copast-copast begitu. Belajar menulis dengan mengalir terlebih dahulu justru sangat baik untuk membuat semacam dasar atau basic skill yang akan berguna ke depannya. []
Viki Adi N
