Kini, sebagian besar aktivitas manusia berada dalam ruang maya. Infromasi apa pun ada di sana, dari yang biasa saja hingga yang paling berbahaya, dari yang hanya sekadar berbagi informasi hingga penggiringan opini. Santri dan pondok pesantren yang selama ini identik dengan kaum sarungan dan tertutup dengan dunia luar—khususnya merujuk pada yang disebut tradisional—harus mengambil posisi layaknya agen perubahan di masa kolonial yang siap bertempur habis-habisan melawan komprador penjajah. Bedanya, “pertempuran” hari ini terjadi di jagad maya, di dunia online, melalui berbagai media dan platform yang beraneka macam. Buku ini mencoba mengupas bagaimana santri dan pondok pesantren perlu memahami literasi digital dan memanfaatkannya untuk menyebarkan kebaikan dan melawan keburukan di tengah ruang yang begitu luas nyaris tak bertepi.
***
“…Pesantren sebagai agen perubahan sosial perlu kiranya memperkuat literasi digital para santrinya sehingga mereka mampu menjadi pemimpin sekaligus penerus cita-cita para ulama dan pendiri republik ini. Saya kira, inilah pesan penting yang ingin disampaikan penulis…”
KH. Abdullah Zaini, Lc., M.Th.I. (Pengasuh Ma’had Tahfidz Al-Qur’an Zainul Ibad Prenduan Sumenep)




Ulasan
Belum ada ulasan.