Vape dan Gaya Hidup Perempuan Kini

Ketika mampir ke tempat jajan di pinggir jalan (semacam street food) dekat gedung olahraga Klebengan, saya melihat beberapa perempuan memegang benda seperti senter mini eveready yang biasa tersedia di alfamidi atau mini market lainnya. Perlahan berjalan menuju ujung stand, lalu kembali lagi mencari-cari makanan yang cocok. Jadi, saya memang bolak-balik-bolak. Ternyata baru sadar ketika melihat tayangan kedua, maksudnya ketika melihat beberapa perempuan tadi yang membawa benda seperti senter untuk kedua kalinya.

Apa itu benar senter? Seketika jawaban didapat. Ternyata itu adalah vape yang berukuran mini. Saya tahu karena perempuan tadi menghisap layaknya orang sedang merokok yang mengeluarkan asap. Jujur saya cukup kaget. Kalau perempuan merokok, saya sudah beberapa kali melihat. Kalau vape? Nah ini pertama kalinya. Kekagetannya bukan karena itu, tetapi salah satunya karena ini: apakah saya terlalu kudet? Apakah saya benar-benar tidak mengerti trend dan gaya hidup?

Efek pandemi sepertinya telah meninabobokan. Saking jarang keluar mungkin kali ya, terlalu banyak bertapa, ketika keluar dunia seperti berubah saja. Sebelum pandemi, saya merasa belum pernah melihat perempuan memakai vape. Kalau laki-laki, itu biasa. Seringkali saya melihatnya.

Beberapa hari sebelumnya juga begitu. Saya berpapasan dengan perempuan yang memakai vape. Kalau tak salah di depan minimarket. Entahlah, saya merasa ada yang ganjil saja. Walau anak seni rupa, saya tak merokok. Emang apa hubungannya seni rupa dan rokok? Nah, jika kalian tidak tahu sila tengok kampus seni. Di situ, kalian akan tahu jawabannya. Saya memang menganggap kalau merokok itu pilihan pribadi. Meski begitu, saya seorang pengikut fatwa Syaikh al-Qaradhawi mengenai hal ini. Tetapi sekali lagi, itu saya perlakukan untuk diri sendiri.

Waktu SMA, saya dan kawan-kawan satu tim pernah mengikuti lomba sosialisasi bahaya nikotin. Lebih pasnya mungkin rokok. Karena dulu belum terlalu populer apa yang kini disebut rokok elektrik semacam vape atau vapor yang memiliki nikotin cair yang kadarnya jelas-jelas terdefinisikan. Dulu, kami belajar mengenai nikotin, rokok, dan zat-zat yang terkandung di dalamnya kepada seorang (calon) dokter muda. Kekagetan saya di situ sebenarnya, karena teringat dengan perkataan dokter tersebut bahwa rokok elektrik justru lebih berbahaya apalagi yang memiliki kandungan rasa-rasa. Kalau ada rasa sate padang, apakah saya perlu mencoba?

Itu kata dokter dulu. Jika ada fakta lain, saya tak begitu tahu. Saya hanya khawatir kepada para perempuan itu. Bukankah itu berbahaya bagi rahimnya? Itu saja. Sepulang dari situ, saya hanya berdoa semoga mereka segera merasakan kehidupan sebenarnya, maksudnya menikah dan menjadi istri, agar dari situ (semoga) mereka bisa memilih hidup yang lebih sehat. Ketika berkeluarga, saya yakin mereka akan berhenti dan lebih mengutamakan keselamatan keturunannya.

Saya tak bisa menulis ini lebih panjang. Saya berharap kepada mereka yang memiliki keilmuan yang berhubungan dengan fenomena ini bisa terus menyuarakan gaya hidup yang benar dan sehat. Saya hanya merasa kasihan. Itu saja. []

Viki Adi N

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *